Iluminasi dalam Naskah Cirebon

14 1
Iluminasi daerah iwak telu sirah sanunggal dalam naskah babon Tarekat Sattariyah Keraton Kaprabonan, bagian Adabal-Murīd
0 Komentar

“Surat ini sangat unik, hiasannya sangat beragam dengan motif dua buket bunga dengan bunga mawar, bunga matahari, dan bunga krisan. Hiasan lainnya tebaran bunga kenanga dan rangkaian swastika,” tulis Mu’jizah dalam Iluminasi dalam Surat-Surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19.

Dalam buku Golden Letters: Writing Tradsions of Indonesia, Annabel Teh Gallop dan Bernard Arps mendokumentasikan khazanah surat-surat Melayu di Nusantara. Walau tidak menjelaskan isi teksnya, buku tersebut memperlihatkan kekayaan iluminasi dalam sejarah pernaskahan kerajaan-kerajaan Nusantara.

Surat yang dibuat oleh raja-raja Melayu itu biasanya berisi ucapan terima kasih, permintaan bantuan, izin perdagangan, ataupun masalah-masalah ekonomi lainnya. Umumnya surat-surat itu ditulis menggunakan huruf arab karena hingga abad ke-19 di wilayah Melayu masih belum tersebar secara merata penggunaan huruf latin.

Baca Juga:Apa Kabar Sunda Wiwitan?Galuh Timur, Desa Jawa Bermerek Sunda

Iluminasi dari kata illuminate,yaitu to make something clearer or easier to understand,atau to decorate something with light. Menurut Gallop dan Arps, padanan kata iluminasi dalam bahasa Indonesia adalah seni sungging. Sementara di Yogyakarta disebut renggan wadana.

Dalam kitab babon tarekat Sattariyah Keraton Kaprabonan ada istilah nurgiri ciptarengga, nama bukit tempat Sunan Gunungjati menyampaikan syiar Islam. Bukit tersebut digambarkan terang benderang karena disinari lampu hiasan yang dirancang dengan indah. Kata ciptarengga dalam bahasa Cirebon memiliki makna yang sama dengan renggan wadana dan illumination.“Salah satu wilayah yang memiliki kekayaan iluminasi adalah Cirebon yang merupakan border area antara dua kutub kebudayaan besar yaitu Jawa dan Sunda,” tulis Achmad Opan Safari dalam makalahnya bertajuk Iluminasi dalam Naskah Cirebon.

Manuskrip mushaf al-Qur‟an Keraton Kacirebonan memiliki 78 iluminasi, Motif iluminasi manuskrip mushaf al-Qur‟an Keraton Kacirebonan memiliki 3 motif yaitu tumbuh-tumbuhan , bunga dan geometri. Pada motif tumbuh-tumbuhan tedapat dua ragam yaitu model sulur dan patra. Seluruh motif tumbuh-tumbuhan pada manuskrip Mushaf al- Qur‟an Keraton Kacirebonan berupa tumbuhan kangkung yang memiliki makna ketauhidan.

Makna pada iluminasi kangkung berdasarkan syair “Kuntul manglayang angulati panggilihing kangkung”. Pada motif kedua yaitu motif bunga teratai, bunga teratai sendiri memiliki arti kesucian.Model-model iluminasi pada naskah Cirebon hingga saat ini masih banyak digunakan dan dilestarikan pada seni ukir, seni batik, seni lukis kaca, dan juga pada seni bangunan. Kesemuanya berfungsi ganda yaitu untuk kelestariantradisi itu sendiri juga untuk para pengrajinnya. Ia memiliki fungsi ekonomi, sosial dan budaya. (*)

0 Komentar