“Nyiram Gong Sekati” Upaya Kraton Kanoman Cirebon Rawat Tradisi

WhatsApp Image 2020 10 27 at 18.37.01 1024x768 1
0 Komentar

Tumbukan bata merah tersebut kemudian dioleskan ke seluruh badan alat musik menggunakan serabut kelapa. Ratu Arimbi menyebutkan, selain menggunaan air doa, pencucian Gong Sekati menggunakan air kelapa hijau yang sudah di fermentasi.

“Ini salah satu cara kami membersihkan benda peninggalan nenek moyang khusus Gong Sekati Kanoman Cirebon agar ketika ditabuh terdengar syahdu,” ujar dia.

Selain usianya yang sudah ratusan tahun, diketahui para nayaga atau pemain Gong Sekati adalah orang terpilih. Ratu Arimbi menyebutkan para penabuh Gong Sekati merupakan turun temurun dari kakek maupun nenek moyangnya.

Baca Juga:Ketika ‘Mas Galak’ Jalani Perintah Louis NapoleonGong Sekati Berusia 750 Tahun di Kraton Kanoman, Begini Cara Merawatnya

“Kalau kakek atau moyangnya dulu jadi penabuh Gong ya sampai sekarang anak cucunya hanya menabuh gong saja tidak yang lain,” kata dia.

Mereka yang memiliki keturunan sebagai penabuh Gong Sekati secara otomatis memiliki tanggung jawab terhadap alat musik yang dipegangnya.

Oleh karena itu, Gong Sekati merupakan salah satu benda pusaka peninggalan Keraton Kanoman yang tidak biasa. Sementara itu, pada prosesi pencucian di Musala Keraton Kanoman Cirebon, warga maupun pengunjung rela berdesakan mengambil air bekas cucian Gong Sekati.

“Masyarakat meyakini itu barokah karena prosesi pencuciannya dibarengi dengan membaca doa. Air bekas pencucian dipakai untuk persawahan, pertanian dan lain-lain,” kata dia.

Pada masa Sunan Gunung Jati, Gong Sekati menjadi salah satu alat untuk mensyiarkan Islam. Warga yang melihat dan menikmati alunan musik Gong Sekaten, harus dengan rasa suka cita.

Konon, pada masa Sunan Gunung Jati, warga yang melihat dan menikmati musik Gong Sekati harus membaca dua kalimat syahadat sebagai imbalannya. (*)

0 Komentar