Pada tahun 1990, British Library bahkan mengklaim bahwa naskah yang berada di tempatnya mulai dikoleksi sejak abad ke-15. Koleksi mereka berisi berbagai macam hikayat, syair, primbon, surat, sampai bukti transaksi dagang dari abad ke-15.
Inggris memang merupakan salah satu negara yang menyimpan naskah-naskah kuno Indonesia terbanyak kedua setelah Belanda. Hal ini dikarenakan Raffles pernah datang di abad ke-18 juga banyak membawa surat-surat dari berbagai raja yang berkuasa di Indonesia.
Selain Inggris, negara yang juga banyak mengoleksi naskah kuno Indonesia adalah Belanda. Maklum, Negara Kincir Angin ini telah berada di Indonesia 350 tahun lamanya. Naskah kuno di Belanda banyak tersimpan di sejumlah perpustakaan dan museum, antara lain di Amsterdam, Leiden, Delft, dan Rotterdam.
Baca Juga:Menguak Mitos Maung dan Nama Besar Prabu SiliwangiPenutupan SEA Games Pertama di Bangkok, Thailand Tahun 1959
Kepada Rakyat Cirebon, Wawan Hermawan, Arsiparis Kota Cirebon, menyatakan keberadaan naskah-naskah kuno dan arsip-arsip sejarah Cirebon, yang berada di luar negeri terutama Belanda sangat perlu untuk ditelusuri. “Saya berharap menjadi koleksi pemerintah Kota Cirebon melalui Dispusip,” ungkapnya, Rabu, (29/7).
Menurut Wawan, sesungguhnya arsip-arsip di Kota Cirebon banyak mengandung nilai guna sejarah dan masih tercecer di masyarakat. “Seharusnya penelusuran arsip itu secara kontinyu dan komitmen dilaksanakan serta disosialisasikan. Agar arsip bisa terhimpun, terlindungi dan terkumpul dalam satu badan yang dibentuk pemerintah. Sehingga arsip bisa tertata dengan baik sebagai bahan sumber informasi bagi pengguna arsip,” jelasnya.
Ironisnya, profesi Arsiparis atau ahli arsip yang digeluti Wawan Hermawan ini belum dianggap profesi penting di Indonesia. Tata kelola arsip yang merupakan aset bangsa pun lebih banyak diserahkan kepada orang yang tak mengerti seluk-beluk pengarsipan. Secara umum, dunia kearsipan Tanah Air masih jauh dari perhatian. Faktanya, penanganan arsip yang tidak benar menyebabkan arsip rusak, terselip, dan tidak terawat, bahkan hilang sebelum sempat dimanfaatkan informasinya.
Pria yang akrab disapa Pak Guru ini, mengatakan, kearsipan adalah bidang profesional yang membutuhkan tenaga ahli spesialis. “Arsip memiliki nilai penting bagi kegiatan pendidikan seperti penelitian dan penulisan, terutama yang terkait dengan soal sejarah,” ujarnya yang menggeluti dunia kearsipan hampir dua puluh lima tahun.
