Pesan itu pun disampaikan oleh Syekh Rama Haji Irengan kepada Syekh Datuk Kali Putah (Embah Damar Wulan). Akhirnya Syekh Datuk Kali Putah menyiapkan pasukan untuk ikut menyerang kerajaan Galuh Talaga yang dipimpin oleh Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat) dengan pasukan lainnya, yaitu Embah Buyut Rangga Jaya, Embah Buyut Rangga Wisesa, Embah Buyut Rangga Wisempek, dan Embah Buyut Sudamelawi. Kelima utusan tersebut menuju suatu tempat yang berbatasan langsung dengan kerajaan Galuh Talaga dengan jarak dari desa Darma kurang lebih enam puluh kilometer naik turun gunung, Kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai), tepatnya di Gunung Pucuk. Pasukan tersebut menyerang pasukan Galuh Talaga yang mencoba menyusup ke kerajaan Cirebon melalui kaki Gunung Gede (Gunung Ciremai).
Pertempuran pun berlangsung cukup sengit, dan berlangsung cukup lama, enam bulan lamanya. Akhirnya kelima tokoh tersebut selesai perang tidak semuanya kembali ke Darma, namun mereka ada yang menetap di kaki gunung Ciremai, ada pula yang menetap di Situ Sanghiang dan ada yang kembali ke desa Darma, yaitu Syekh Habibullah (Embah Sapu Jagat).
Sepulangnya dari peperangan Embah Sapu Jagat menetap di dusun Gunung Luhung. Luhung artinya pintar/sakti, namun karena takut dianggap terlalu sombong, akhirnya diganti nama Gunung Luhung menjadi Gunung Luhur.
Baca Juga:Cinta Terlarang yang Berujung PerangSamarnya Asal-usul Syech Siti Jenar
Kira-kira pada tahun 1732 M. Darma sudah mulai dihuni oleh masyarakat dengan budaya dan pengaruh diambil dari kerajaan Galuh Talaga yang menganut agama Hindu. hal ini dibuktikan dengan sisa-sisa peninggalan sejarah baik seperti cerita Lutung Kasarung yang berlokasi di desa Karang Sari, desa Gunung Sirah, maupun peninggalan berupa material atau puing-puing bekas bangunan dan candi yang ditemukan di daerah Sagara Hiang.
Darma merupakan daerah di selatan pegunungan Ciremai dengan kondisi alam yang sangat indah, menghijau hamparan persawahan cukup luas, mata air mengalir dengan jernihnya, sungai berkelok mengitari setiap kampung. melintang dari timur ke barat membelah kawasan waduk Darma, sehingga menjadi salah satu daya tarik yang luar biasa, maka dalam waktu yang cepat Darma telah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang cukup maju dan sekarang menjadi sebuah kecamatan. (wb/bersambung)
