Bom Meledak Serentak di Misa Natal Tahun 2000

241200cBom
0 Komentar

Mulanya, bom pertama yang meledak ditemukan polisi di bawah telepon umum, di seberang jalan depan gereja. Saat diperiksa polisi, isinya rangkaian kabel. Oleh Riyanto, bom tersebut dimasukkan ke dalam saluran air.

“Dipikirnya bom itu seperti mercon jika dimasukkan ke dalam lubang saluran air dengan harapan supaya tidak meledak. Namun, bom itu meledak di dalam saluran air,” tambahnya.

Akibat ledakan tersebut, Riyanto terlempar sejauh 30 meter. Tubuhnya melayang melewati Gereja Eben Haezer dan mendarat di belakang rumah warga. Jenazahnya sulit dikenali.

Baca Juga:Vasco da Gama Meninggal Dunia Akibat Malaria, 1524Christmas Truce, Gencatan Senjata Natal di Perang Dunia I

Setelah ledakan itu, jemaat baru teringat bahwa di dalam gereja masih ada satu bungkusan lagi yang dicurigai sebagai bom. Bungkusan tersebut kemudian dibawa ke tengah jalan dan meledak.

Salah satu pelaku serangan Bom Natal tahun 2000, Umar Patek, mengisahkan persiapan menjelang peledakan bom di sejumlah gereja di Jakarta. Dulmatin, kawan Patek, mengajaknya ke Jakarta untuk bekerja.

“Kalau sudah tertata, kamu ikut saya ke Jakarta,” ujar Dulmatin kepadanya.

Beberapa hari kemudian ia mendapat kabar untuk segera menyusul Dulmatin. Di Jakarta, ia bertemu dengan Imam Samudera dan Mukhlas, dua orang terdakwa kasus Bom Bali.

Kepada Umar Patek, Imam Samudera menyampaikan bahwa dirinya hendak membalas dendam atas kejadian yang menimpa umat Muslim di Ambon dan Poso dengan meledakkan gereja-gereja di Jakarta.

Ia pun membantu Dulmatin mempersiapkan sejumlah bom yang akan diledakkan pada malam Natal tahun 2000. Menurutnya, kemampuan Dulmatin merangkai bom berasal dari Afghanistan.

“Semua personel yang pernah ke Afghanistan, pasti bisa meramu peledak,” ujarnya.

Baca Juga:Desa Darma, Pos Pertahanan Kesultanan CirebonCinta Terlarang yang Berujung Perang

Beberapa hari menjelang rencana peledakan, Dulmatin terus meramu dan merangkai bom. Pada sore 24 Desember 2000, sejumlah bom siap diledakkan. Bersama Edi Setiono yang menyupiri mobil, Dulmatin dan Umar Patek lalu meluncur ke beberapa tempat sasaran. Selama perjalanan, Dulmatin mengatur jam peledakan.

“Semua diset jam 00.00, pake jam alarm, kayak yang dijual di pinggir jalan. Tinggal dipencet pas jam 9 katanya,” ujar Umar Patek.

Beberapa jam kemudian, bom-bom itu pun meledak di sejumlah gereja di Jakarta.

0 Komentar