Tanda Ramalan Sudah Tertulis Ratusan Tahun Berlalu, Penelitian Ilmiah Berusaha Ungkap Kapan Terjadinya Kiamat

8168 medium tanda tanda kiamat
Ilustrasi
0 Komentar

Menurut Dr Umar Sulaiman al Asygar, ini adalah suatu metode yang benar-benar keliru. Orang-orang sebelum dia ada yang menggunakan metode yang sama melalui hitungan huruf-huruf muqatha’ah. Namun hasil perhitungan orang-orang sebelum Dr Bahaiy tidaklah sama dengannya.

“Mereka memiliki cara perhitungan yang sama, tetapi hasil perhitungannya jauh berbeda. Inilah yang menunjukkan kelirunya cara mereka dan menunjukkan pula tidak terbuktinya penelitian mereka,” tuturnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa juga memiliki bantahan terhadap orang-orang semacam Dr Bahaiy dan yang sepemikiran dengannya.

Baca Juga:Dikenal Sebagai Gunung Cangak, Sebaran Situs Makam Petilasan di Gunung CakrabuanaDi Balik Kecelakaan Maut Tanjakan Cae Membentang di Punggung Gunung Cakrabuana, Warga: Lewat Jalur Ini Jangan Pakai Batik

Beliau mengatakan, “Siapa saja yang menyibukkan diri memprediksi terjadinya kiamat pada tahun tertentu; di antaranya yang menulis kitab “Ad-Durra Al-Munazzam Fii Ma’rifah Al-A’zham” yang menyebutkan sepuluh dalil yang menunjukkan kapan terjadinya kiamat, begitu pula ada yang memprediksi dalam kitab “Huruful Mu’jam”, atau dalam kitab ‘Anqo’ Mughrib, atau orang-orang lain yang melakukan prediksi yang sama; walaupun itu dianggap suatu hal yang menakjubkan oleh pengikutnya, namun perlu diketahui bahwa mayoritas mereka adalah pendusta, yang telah tertipu, dan telah terbukti bahwa mereka hanya berbicara tanpa dasar ilmu. Sungguh mereka telah mengklaim dan mengungkap suatu yang gaib tanpa dasar ilmu sama sekali. Padahal Allah SWT berfirman,

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al-A’raf: 33)”.Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al-fawaahisy (perbuatan keji, biasa merujuk pada zina). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar.

Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan sifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.”

0 Komentar