Berbeda dengan pertunjukan wayang lainnya, Sunan Kalijaga tidak mematok tarif bagi yang ingin menyaksikan pertunjukan beliau, melainkan cukup dengan menyebut Kalimosodo atau dua kalimat syahadat sebagai tiket masuknya.
Dengan begitu, orang-orang yang menyaksikan pertunjukan wayang Sunan Kalijaga sudah masuk Islam. Berkat kelihaian Sunan Kalijaga berbaur, lambat laun masyarakat setempat mengenal Islam pelan-pelan dan mulai menjalankan syariat Islam.
Dalam pertunjukannya, terdapat banyak lakon digubah Sunan Kalijaga yang diadaptasi dari naskah kuno, salah satu yang paling digemari adalah lakon Dewa Ruci, Layang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja, dan lain sebagainya.
Baca Juga:Belajar Tasawuf Tarekat Syadziliyah, Syekh Jati Penata Agama di Tatar PajajaranSosoknya Masih Menjadi Teka-Teki, Syaikh Sidi Zunnar
Tidak hanya itu, Sunan Kalijaga juga menambahkan karakter-karakter baru seperti punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng.
Selain menggelar pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga juga menggubah tembang-tembang yang sarat dengan muatan keislaman, seperti Kidung Rumeksa ing Wengi, Ilir-ilir, dan lain sebagainya.
Dalam buku Atlas Wali Songo (2016), Agus Sunyoto menuliskan bahwa selain sebagai dalang dan penggubah tembang, Sunan Kalijaga juga berkreasi sebagai seniman dan penari topeng, perancang pakaian, perajin alat-alat pertanian, hingga penasihat sultan dan kepala-kepala daerah di masa itu.
Sunan Kalijaga disebutkan memiliki beberapa istri, antara lain Dewi Saroh, Syarifah atau Siti Zaenab, dan Ratu Katno Kediri. Dewi Saroh adalah putri Maulana Ishaq, sedangkan Ratu Kano merupakan putri dari Kerajaan Kediri.
Mengenai Siti Zaenab yang dinikahi Sunan Kalijaga, ada beberapa versi terkait sosok ini. Mohd. Faizal Harun melalui buku berjudul Tasawuf dan Tarekat: Sejarah Perkembangan dan Alirannya di Malaysia (2015), misalnya, menyebutkan bahwa Siti Zaenab adalah adik dari Sunan Gunung Jati.
Sedangkan dalam Biografi Sunan Gunung Djati: Sang Penata Agama di Tanah Sunda (2020) yang disusun oleh Wawan Hernawan dan Ading Kusdiana, pada bagian catatan kaki dituliskan keterangan bahwa Siti Zaenab adalah seseorang yang masih mempunyai ikatan persaudaraan dengan Syarif Hidayat (Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati).
Di buku yang sama dengan bersumber dari Babad Cirebon mengutip Purwaka Caruban Nagari, diungkapkan versi yang berbeda lagi, yakni Sunan Kalijaga menikah dengan Ratu Winahon, yang disebutkan sebagai putri Sunan Gunung Jati, meskipun pada akhirnya bercerai.
