Wedana Bupati Mataram di Tatar Priangan Terbunuh, Makamnya di Kawasan Hutan Situs Karangkamulyan

Makam Adipati Panaekan di Situs Karangkamulyan, lokasinya berada di jalan poros Ciamis-Banjar dengan luas 25,5
Makam Adipati Panaekan di Situs Karangkamulyan, lokasinya berada di jalan poros Ciamis-Banjar dengan luas 25,5 hektar.
0 Komentar

Adipati Panaekan yang mempunyai nama aslinya Raden Ujang Ngoko adalah putra Prabu Cipta Permana putra Maharaja Sanghyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawee (saat ini Dusun Tinggarahayu, Desa Cimaragas Kecamatan Cimaragas, Ciamis) putra Prabu Haur Koneng putra Prabu Pucuk Umum (Sunan Parung Gangsa alias Pucuk Umum Talaga yang menikahi Ratu Parung atau Ratu Sunyalarang alias Wulansari) Galuh Tanduran atau Pangauban Pangandaran putra Prabu Munding Surya Ageung putra Prabu Anggalarang.

Kerajaan Galuh Pangauban didirikan oleh Prabu Haur Kuning (saat ini masuk wilayah desa Putrapinggan, Kalipucang, Pangandaran kecamatan Kalipucang, Pangandaran

Raja ini memiliki tiga orang putra yang bernama Maharaja Upama, Maharaja Sanghyang Cipta dan Sareuseupan Agung. Sebagai anak tertua, Maharaja Upama mewarisi kerajaan Galuh Pangauban dari ayahnya. Maharaja Sanghyang Cipta diberi wilayah Salawe (Cimaragas) dan mendirikan Kerajaan Galuh Salawe. Sedangkan Sareuseupan Agung menjadi raja di wilayah Cijulang

Baca Juga:Mengungkap Makam Tua di Pabrik Gula Karang SuwungHilangnya Kerajaan Indraprahasta di Cirebon Girang

Selama dikuasai Cirebon, wilayah Galuh berstatus kerajaan bawahan namun saat dikuasai oleh Mataram statusnya turun menjadi kabupaten atau kadipaten.

Galuh yang semula kerajaan berubah status menjadi kabupaten dan gelar raja, prabu atau sanghyang menjadi adipati. Adipati Panaekan diangkat menjadi Wedana Bupati Mataram di tatar Priangan oleh Sultan Agung 1613 – 1645, penguasa Mataram.

Pada saat Sultan Agung mulai mempersiapkan diri untuk menyerang VOC di Batavia pada tahun 1625, ia memerintahkan bupati-bupati dari priangan untuk berpartispasi.

Hal ini menjadikan perbedaan pendapat di antara para bupati. Perselisihan semakin panas, terutama antara Adipati Panaekan dan Singaperbangsa. Panaekan ingin secepatnya menyerang, sebelum VOC semakin kuat. Sementara, Singaperbangsa berpendapat lebih baik pasukan memperkokoh kekuatan logistik sebelum berangkat menyerang.

Puncaknya, Adipati Panaekan terbunuh pada tahun 1625. Jasad Wadana Bupati dihanyutkan ke sungai Ci Muntur. Lalu, ditemukan oleh pengikutnya, kemudian dimakamkan di Situs Karangkamulyan.

Adipati Panaekan digantikan oleh putranya yang bernama Ujang Purba, yang bergelar Dipati Imbanagara.

Konon, sebab peristiwa tersebut Singaperbangsa kemudian memindahkan Kertabumi ke Bojonglopang, Banjar Kolot saat ini. Oleh karena itu, Kertabumi disebut juga Kabupaten Bojonglopang, dan merupakan cikal bakal Kota Banjar. (*)

0 Komentar