Majalah Teosofi, Lucifer, seperti dikutip Iskandar P. Nugraha melaporkan bahwa sebelum mendirikan Theosophical Society, Madame Blavatsky pernah berkunjung berkali-kali ke Hindia Belanda dan menaruh perhatian tinggi terhadap nilai-nilai Jawa yang menurutnya dapat dijadikan penyumbang ajaran Teosofi. Kunjungan pertama dilakukan pada 1852.
“Blavatsky mengunjungi Candi Mendut dan Borobudur, lalu sempat singgah di Pekalongan dan bermalam di Pesanggrahan Limpung di lereng Gunung Dieng. Pada 1862, ia kembali berkeliling Pulau Jawa dan diberitakan menyinggahi banyak tempat di Jawa,” tulis Nugraha.
Setelah kunjungan Madame Blavatsky, sebagian masyarakat Jawa sudah mulai tertarik dengan Teosofi pada akhir abad ke-19, khususnya di Jawa Tengah. Gerakan Teosofi pertama di Hindia Belanda didirikan di Pekalongan yang lojinya dipimpin oleh seorang bangsawan Eropa (Jerman) bernama Baron van Tengnagel. Organisasi ini diakui secara sah oleh Theosophical Society pusat yang waktu itu berkedudukan di Adyar, dekat Madras, India. Izinnya ditandatangani langsung oleh Kolonel Olcott.
Baca Juga:Mencari Benteng Cirebon ‘De Beschermingh’Mayor Tan Tjie Kie, Nasibmu Kini
Dalam gerakan Teosofi, loji diartikan sebagai perkumpulan yang jumlah anggotanya minimal tujuh orang dan harus mendapat izin dari perkumpulan induk dengan bukti berupa akta yang ditandatangani pimpinan gerakan Teosofi.
Nama gerakan Teosofi pertama di Hindia Belanda adalah The PekalonganTheosophical Society. Dalam buku yang sama, Iskandar P. Nugraha menyebutkan bahwa gerakan pemimpin gerakan ini adalah seorang kapiten infanteri tentara Hindia Belanda yang pernah ditempatkan di Dinas Topografi.
M. Ryzki Wiryawan dalam Okultisme di Bandoeng Doeloe: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung (2014) menerangkan bahwa loji ini didirikan pada tahun 1883 dan hanya bertahan selama dua tahun.
“Mengenai kegiatan dan hal ihwal organisasi Teosofi tertua di di Hindia Belanda serta aktivitas Baron van Tengnagel hingga wafatnya, masih gelap dan belum dapat diterangkan. Hanya saja diketahui bahwa Baron van Tengnagel meninggal di Bogor pada 1893,” tulis Nugraha dalam dalam Teosofi, Nasionalisme & Elite Modern Indonesia (2011).
Setelah kematian Baron van Tengnagel, gerakan Teosofi di Hindia Belanda mengalami kemandekan dan mulai bangkit lagi pada Juli 1901 saat majalah Theosoficsh Maanblad voor Nederlandsch yang dimotori oleh P. van Asperen ven de Velde pertama kali diterbitkan.
