BUKU karya putera Tan Tjin Kie yang bernama Tan Gin Ho, diterbitkan oleh G Kolff & Co Batavia. Buku yang terdiri dari 67 halaman, bertajuk “Peringetan dari Wafatnya Majoor Tan Tjin Kie dan Kwee Hin Houw Dalam Majalah Tjhoen Tjioe” ini tergolong sulit ditemukan.
Penelusuran Radar Cirebon, gelar Mayoor sendiri bukan pangkat dalam kemiliteran. Tetapi merupakan gelar tituler yang diperoleh masyarakat sipil karena pengaruh konglomerasi Tan Tjin Kie.
Tan Tjin Kie, sebagai pengusaha gula terbesar asal Cirebon, pada usia 29 tahun, diangkat Luitenant der Chineezen. Enam tahun kemudian, ia memperoleh gelar kapitan dan mendapat bintang Gouden Ster van Verdienste (bintang emas untuk jasa).
Baca Juga:Kisah ‘Toa Lang’ di Klenteng Talang
Gelar dan pangkat yang diperoleh Tan Tjin Kie karena reputasi dalam tugasnya sebagai pemimpin masyarakat Tiongkok. Selain itu, meski aktivitasnya sebagai ketua perkumpulan kematian Kong Djoe Koan dan pelindung Hok Siu Hwee, tapi Tan Tjin Kie juga membantu mendirikan masjid di Luwung Gajah, yang dikenal dengan sebutan Masjid Nona.
Di era pemerintahan Dinasti Qing, Tan Tjin Kie dijuluki sebagai To-Han (maharaja kelas II) dan sebagai pelindung kesenian Jawa “Een Grot Beschemer der Javaanse Kunst“. Hal ini terungkap dalam Javaanse Volksvertoningen karya Dr Th Pigeaud.
Sebagai putra dari Mayor Tan Keng Bie, Tan Tjin Kie semasa hidupnya sangat berpengaruh di dunia politik dan militer di masa pemerintahan Hindia Belanda. Dia juga diketahui memberikan sumbangsih besar dalam pembangunan Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon.
Dalam catatan Dr le Tiong Bie atau akrab dipanggil Iwan Satibi yang bersumber dari kisah tentang Tan Tjin Kie dan ditulis Tan Gin Ho dalam bahasa Malayu Tionghoa ini, Tan Tjin Kie memiliki lebih dari seratus rumah yang disewakan. Rumah itu terletak di jalan-jalan protokol Kota Cirebon, Pabrik Gula Luwunggajah di Ciledug.
Selain rumah, Tan Tjin Kie juga memiliki sebuah gedung mewah mirip istana di depan pabrik Pabrik Gula Luwunggajah di Ciledug yang disebut Gedung Binarong.
