Babad Cirebon versi Catatan Klenteng Talang

talang 3
0 Komentar

Sebaliknya, Masyarakat Tionghoa Islam Hanafi di Sembung sangat berkembang dan sangat teguh imannya di dalam agama Islam. Pada waktu itu perkembangan di Sembung sama seperti di Bagan Siapi-api, Pattani dan Sambas yaitu masyarakat Tionghoa yang terisolasi tetap beragama Islam Hanafi dan tetap menggunakan bahasa Tionghoa untuk mengerjakan ibadah.

Ekspansi Kekuasaan Demak di Jawa Barat, tahun 1526, armada dan tentara Islam Demak singgah di pelabuhan Talang. Ikut serta dalam armada itu seorang Tionghoa Muslim peranakan yang pandai bahasa Tionghoa bernama Kin San. Panglima tentara Demak (Syarif Hidayat Fatahillah) serta Kin San dari Talang pergi ke Sarindil, tempat bertapa Haji Tan Eng Hoat, Imam Sembung. Bersama Haji Tan Eng Hoat, tentara Islam Demak secara damai memasuki Sembung.

Atas nama Raja Islam Demak, Panglima Tentara Demak memberikan gelar kepada Haji Tan Eng Hoat, Imam Sembung. Bunyi gelar itu, “Mu La Na Fu Di Li Ha Na Fi”. Tentara Demak kembali ke kapal dan berlayar ke barat. Kin San satu bulan bertamu pada Haji Tan Eng Hoat.

Baca Juga:Mencari Jejak Kerajaan Sunda KunoTidak Ada Nama Raja Sunda Bernama Prabu Siliwangi?

Sultan Trenggana memberikan gelar “Maulana-Ifdil Hanafi” kepada Haji Tan Eng Hoat. Dengan demikian, Jafar Sadik gelar Sunan Kudus mengizinkan Haji Tan Eng Hoat, di daerah Cirebon tetap beragama Islam Madzhab Hanafi dengan terus menggunakan bahasa Tionghoa dalam menjalankan ibadah. Mereka tidak dipaksakan harus beralih ke madzhab Syafi’i yang ibadahnya menggunakan bahasa Arab.

Berdirinya Kesultanan Cirebon, tahun 1552, setelah seperempat abad, Panglima Tentara Demak datang lagi ke Sembung, tanpa tentara. Haji Tan Eng Hoat terheran-heran. Kabarnya, Panglima Tentara Demak pernah menjadi Raja Islam di Banten. Dia sangat kecewa mendengar pembunuhan-pembunuhan dikalangan keturunan Jin Bun di Demak. Dia pun tidak mau tunduk kepada Sultan Pajang, karena di Kesultanan Pajang, Madzhab Syi’ah sangat berpengaruh.

Bekas Panglima Tentara Demak bertapa seumur hidup di Sarindil. Haji Tan Eng Hoat menceritakan bahwa masyarakat Tionghoa Islam di Sembung pun sudah sejak 4 generasi putus hubungan dengan Yunnan yang Islam. Sebaliknya, orang-orang Tionghoa keturunan Hokkian yang bukan Islam sudah sangat kuat di daerah Cirebon.

0 Komentar