Babad Cirebon versi Catatan Klenteng Talang

talang 3
0 Komentar

Haji Tan Eng Hoat sendiri adalah keturunan Hokkian yang cuma sangat sedikit sekali yang mau masuk Islam. Haji Tan Eng Hoat meminta kepada bekas Panglima Tentara Demak supaya membimbing masyarakat Tionghoa Islam di Sembung mendirikan suatu Kesultanan sebagaimana Jin Bun di Demak dahulu. Tidak ada jalan lain untuk menjamin masyarakat Tionghoa dan madzhab Hanafi, kecuali melepaskan diri dari Demak. Walaupun sudah tua, bekas Panglima Tentara Demak itu menerima permintaan itu.

Tahun 1552 – 1570, dengan bantuan masyarakat Islam Tionghoa Sembung, bekas Panglima Tentara Demak itu mendirikan Kesultanan Cirebon yang berpusat di tempat Keraton Kesepuhan sekarang. Sembung ditinggalkan dan menjadi pekuburan Islam. Penduduk Sembung hijrah dengan nama-nama Islam dan nama-nama Indonesia asli menempati kota Cirebon yang baru muncul. Sultan Cirebon yang pertama tentu saja bekas Panglima Tentara Demak sendiri. Dia segera membentuk tentar Islam dari bekas penduduk Sembung. Orang-orang Tionghoa yang non-Islam terpaksa tunduk kepada Tentara Tionghoa Islam Cirebon yang baru dibentuk itu.

Tahun 1553, supaya ada ibu negara di Kesultanan Cirebon yang baru tampil itu, maka Sultan Cirebon pertama (yang sudah lanjut usianya) menikah dengan putri Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi. Dari Sembung, penganten putri diarak ke Keraton dengan kebesaran, seolah-olah dari istana kaisar-kaisar Tiongkok Dinasti Ming pada zaman Laksamana Haji Sam Po Bo. Sang putri dikawal oleh sepupunya, Tan Sam Cai.

Baca Juga:Mencari Jejak Kerajaan Sunda KunoTidak Ada Nama Raja Sunda Bernama Prabu Siliwangi?

Tahu 1553 – 1564, Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi dengan gelar Pangeran Adipati Wirasenjaya menjadi Raja Muda bawahan Kesultanan Cirebon. Secara de jure berkuasa sampai ke Samudera India, secara de facto berkedudukan di dekat Kadipaten. Dari situ beliau sangat berjasa dalam mengembangkan agama Islam Madzhab Syafi’i dalam bahasa Sunda di pedalaman Priangan Timur sampai ke Garut.

Lalu, tahun 1564, Haji Tan Eng Hoat wafat di dalam ekspedisi militer merebut kerajaan Galuh yang beragama Hindu. Jenazahnya dimakamkan di daerah Galuh, di sebuah pulau di tengah suatu danau.

Karier Tan Sam Cai di Cirebon, tahun 1569 – 1585, Tan Sam Cai yang tidak pernah suka memakai nama Muhammad Syafi’i bergelar Tumenggung Aria Dipa Wiracula menjadi Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon. Dia sangat setia mengunjungi Klenteng Talang untuk membakar hio. Walaupun demikian, secara finansial Tan Sam Cai sangat berjasa memperkuat Kesultanan Cirebon, sehingga dia tetap dipertahankan. Sebagaimana sultan Turki, Tan Sam Cai mendirikan harem tempat simpanan ratusan gula-gula kaki dua yakni di Istana Sunyaragi.

0 Komentar