Jadi Telik Sandi Hindia Belanda, Snouck Hurgronje Pernah ke Cirebon?

(Snouck Hurgronje menyambut Pangeran Saud di Leiden University, 1936. Sumber foto: Wikimedia Commons)
(Snouck Hurgronje menyambut Pangeran Saud di Leiden University, 1936. Sumber foto: Wikimedia Commons)
0 Komentar

Menurut A Suryana Sudrajat dalam Tapak-tapak Pejuang: Dari Reformis ke Revisionis (2006), pernikahannya dengan Siti Sadijah diatur oleh Haji Hasan Mustapa sebagai atasan Kalipah Apo.

Ketika van Koningsveld, penulis buku Snouck Hurgronje dan Islam: Delapan Karangan tentang Hidup dan Karya Seorang Orientalis Zaman Kolonial (1989) menyatakan bahwa Hurgronje pura-pura masuk Islam, pernikahannya dengan dua putri penghulu banyak dipertanyakan.

Koningsveld menyebut kedua pernikahan tersebut sebagai upaya Hurgronje “memperoleh kedudukan sebagai orang dalam dalam elite feodal dan keagamaan Jawa Barat”.

Baca Juga:Kukuh Pertahankan Kearifan Lokal, Begini Pesan Putri Kedua Ratu Mas Dolly ManawijahRatu Raja Arimbi Nurtina: Saya Sedih Melihat Nasib Aset Kraton

Sampai kepulangannya ke negeri Belanda, bahkan sampai kematiannya, seperti dikutip A Suryana Sudrajat dari Koningsveld, Hurgronje tidak mengakui kedua istri dan anak-anaknya di depan hukum perdata Nederland. Bahkan pada 1910, ia menikah lagi dengan perempuan Belanda, Ida Maria, putri Dr. A.J. Oort, pensiunan pendeta liberal di Zutphen.

“Akhirnya dia berbuat sesuai dengan etika pergundikan kolonial, antara seorang Eropa dan pengurus rumah tangga atau nyai-nya,” kata Koningsveld seperti dikutip A Suryana Sudrajat dalam Tapak-tapak Pejuang: Dari Reformis ke Revisionis (2006).

Menurut Hamid Algadri dalam C. Snouck Hurgronje: Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab (1984), meski Hurgronje oleh Koningsveld dianggap sebagai “pura-pura Islam”, tapi keabsahan pernikahannya dengan putri para penghulu di Jawa Barat tidak dapat diganggu gugat.

“Di Parahiangan misalnya sudah lazim, bahwa pernikahan dimulai dengan mengucapkan kalimah syahadat oleh pengantin pria, syarat utama untuk seorang dapat diakui sebagai Muslim dan mungkin juga untuk menyelapkan segala keraguan tentang agama sang pengantin pria,” tulisnya.

Algadri menambahkan, tak mungkin seorang penghulu menikahkan putrinya dengan seorang lelaki yang tak diyakini keislamannya, baik secara lahiriah maupun rohaniah.

Raden Joesoef, putra Hurgronje dari Siti Sadijah, mengatakan kepada Koningsveld bahwa ibunya sangat yakin bahwa suaminya adalah seorang beragama Islam.

“Ibunya mengatakan [kepada Raden Joesoef] bahwa Snouck [Hurgronje] seorang muslimin yang taat, yang rajin sembahyang, berpuasa, dan juga telah disunat,” imbuhnya.

Baca Juga:Ada Apa dengan Saka Tatal Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon?Peristiwa Puputan Bayu, Perang di Blambangan

Di titik ini, Kalipah Apo nyatanya tak hanya nama sebuah ruas jalan di Kota Bandung. Ia juga menjadi salah satu sosok pemuka agama yang terlibat langsung dalam sejarah “hubungan mesra” antara Belanda dengan Islam di Nusantara.

0 Komentar