TIDAK banyak yang mengetahui adanya satu pertempuran besar di Nusantara yang membuat Belanda sangat kewalahan. Bukan Perang Jawa atau pun Perang Aceh, melainkan Puputan Bayu, perang di Blambangan atau yang kini dikenal dengan Banyuwangi.
Berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa yang lahir pada 1295 atau dua tahun setelah Majapahit berdiri. Raja Majapahit Raden Wijaya memberikan wilayah tersebut kepada Arya Wiraraja alias Adipati Sumenep dengan ibu kota Lumajang, sebab telah membantu perjuangan mendirikan Majapahit.
Dikutip dari Majalah Tempo edisi 13 September 2010, Kerajaan Blambangan terekam mampu bertahan hingga abad ke-18, setelah keruntuhan Majapahit pada abad ke-15. Namun, riwayatnya tidak pernah disebut dalam sejarah nasional Indonesia.
Baca Juga:Jenazah Stalin Dipindahkan dari Makam LeninIndonesia Merebut Papua Barat dari Nugini
Hanya sedikit sejarawan yang meneliti Blambangan, peninggalannya pun bisa dihitung dengan jari. Riwayat kerajaan ini mayoritas berupa cerita rakyat yang kental dengan legenda atau mitos, seperti kisah Damarwulan Menakjingga yang kerap dibawakan dalam seni pertunjukan.
Peneliti dan dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember, Edi Burhan Arifin mengatakan, bukti-bukti seperti prasasti Kerajaan Blambangan terbilang minim, sehingga silsilah para pemangku kekuasaannya pun nyaris tak terdeteksi.
“Kerajaan Blambangan adalah kerajaan terakhir yang ditaklukkan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) Belanda dengan perlawanan paling gigih,” tutur Edi melihat kembali historis Kerajaan Blambangan.
Eksistensi Kerajaan Blambangan berawal dari sebutan Balumbungan yang berarti lumbung. Blambangan merupakan pusat logistik yang kaya sumber daya alam dengan wilayah terbentang dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, hingga Lumajang.
Atas dasar itu, Kerajaan Blambangan menjadi rebutan. Hal itu bisa dilihat dari upaya penaklukan atau pencaplokan Blambangan oleh banyak pihak. Mulai dari Kerajaan Majapahit, Mataram Islam, hingga VOC.
Invasi VOC 1767
Tahun 1743, Raja Mataram Pakubuwana ll menyerahkan Blambangan kepada VOC sebagai imbalan telah merebut ibu kota Kartasura dari tangan pemberontak. Hanya saja, VOC belum melakukan pendudukan lantaran masih terseret konflik Mataram hingga 1757.
Invasi atau ekspedisi militer ke Blambangan baru dilakukan pada Februari 1767. VOC juga menyertakan sekutunya dari Kerajaan Mataram, Pasuruan, Banger, Surabaya, dan Madura.
