Dengan kejadian ini Mbah Kuwu Cakra Buana, akhirnya menciptakan satu ilmu tandingan yaitu, Qutha Qasat, yang bertajuk: “Syetan, jin, perkayang, dedemit, lelembut dan lainnya akan tunduk atas namaku” dan sebelum kisah ini berakhir ada baiknya kita semua tahu bahwa, walau Setan Kober, telah ngahyang selamanya, namun beliau telah mempunyai satu putra sebagai generasi penerusnya yaitu “Banaspati” yang kini masih menjadi pro kontra kalayak ahli bathin.
keris pusaka setan kober milik ki jebuk angrum ayahanda dari Raden Mas Suta Wijaya Indramayu, yang menandai sejarah kejayaan masa lalu berserak di Cirebon. Salah satunya adalah situs sejarah Keraton Gebang di Kabupaten Cirebon.
Satu sudut sejarah di Gebang awalnya terbangun lewat kehadiran sejumlah sosok, salah satunya yakni Pangeran Wirasuta. Ia adalah putra Pangeran Pasarean, Putra Mahkota Kesultanan Cirebon. Menjelang usia tua, Pangeran Wirasuta menetap di sekitar pantai Laut Jawa bersama putranya yang gagah dan cakap bernama Suta bergelar Pangeran Sutajaya Wira Upas. Dalam sejarah Desa Gebangkulon, Pangeran Wirasuta adalah sebagai kuwu pertama di Desa Gebangkulon Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon.
Baca Juga:Petualangan Cinta Putra Mahkota MataramMelihat Cirebon Lawas Lewat Foto Koleksi Royal Tropical Institute Belanda
Menurut sumber sejarah disebutkan, Pangeran Sutajaya mendapat tugas dari Sultan Cirebon untuk membabad alas roban, hutan yang konon terkenal sangat angker karena banyak dedemitnya. Pelaksanaan tugas tersebut dibantu oleh pusakanya yaitu sebuah keris yang bernama Setan Kober dan dibantu pawongan dari bangsa jin yang bernama si Lorod, Masyarakat Gebang mengenalnya sebagai sosok jin yang boros dan mengaitkannya dengan kehidupan nelayan yang berprilaku boros dan suka berpoya-poya. Konon si Lorod bukan tunduk kepada Pangeran Sutajaya, tetapi takut kepada pusaka keris Setan Kober.
Setelah selesai meleksanakan tugas membabad Alas Roban, Pangeran Sutajaya diberi hadiah oleh sultan berupa tanah. Tanah tersebut banyak ditumbuhi pohon gebang. Sesuai dengan cita-cita ramandanya yang ingin menyebarluaskan agama Islam di Cirebon bagian timur, tanah itu dijadikan pedukuhan yang diberi nama Gebang.
Cita-cita ayahandanya terlaksana, Gebang menjadi sangat terkenal kemana-mana dan terus berkembang terutama ke arah bagian selatan sehingga sampai ke daerah Ciawi Kuningan, sehingga kemudian Ciawi disebut Ciawigebang.
