Snouck bertemu dengan Sangkana di Pendopo Kabupaten Ciamis. Di bawah tekanan istri Bupati Ciamis, Lasmitakusuma, terjadilah perkawinan Snouck dengan satu-satunya anak perempuan Muhammad Ta’ib itu. Dari perkawinan ini Snouck mendapatkan empat orang anak, masing-masing Emah, Umar, Aminah, dan Ibrahim. Sangkana kemudian meninggal karena keguguran kandungan anak kelima pada tahun 1895.
Raden Jusuf juga mengonfirmasi anak laki-laki yang diceritakan oleh van der Meulen itu sebagai Ibrahim, saudaranya satu ayah. Ibrahim bekerja sebagai pengatur tata usaha asisten residen di Palembang pada masa sebelum Perang Dunia II. Raden Jusuf menunjukkan fotokopi sebuah surat dari notaris Coeberg dari Leiden yang ditujukan kepada Ibrahim di Palembang.
Surat itu berisi pemberitahuan bahwa Snouck Hurgronje telah wafat pada tanggal 26 Juni 1936 dan di dalam wasiatnya Snouck menghibahkan uang sejumlah 5000 gulden kepada semua anaknya di Hindia Belanda. Dengan bantuan saudara seayah lainnya, Umar, Raden Jusuf menggunakan uangnya untuk membangun sebuah rumah tembok di Jalan Kalipah Apo, sesuai dengan nama panggilan kakeknya.
Baca Juga:Jadi Telik Sandi Hindia Belanda, Snouck Hurgronje Pernah ke Cirebon?Kukuh Pertahankan Kearifan Lokal, Begini Pesan Putri Kedua Ratu Mas Dolly Manawijah
Raden Jusuf juga membenarkan bahwa ayahnya memang merahasiakan hubungan-hubungan kekeluargaannya di Hindia Belanda. Sadijah mengatakan bahwa menjelang kepulangannya ke Belanda tahun 1906, Snouck secara tegas melarang anak-anaknya menggunakan nama Snouck Hurgronje. Karena itu bila ditanya tentang siapa ayahnya, maka Raden Jusuf hanya akan mengatakan bahwa ia cucu Muhammad Su’eb.
Selulus dari sekolah HBS, Raden Jusuf juga dilarang pergi ke Belanda melanjutkan sekolah kedokteran walaupun sebenarnya ia sudah resmi diterima sebagai mahasiswa di sana. Ibrahim juga mengalami hal yang sama.
Walaupun begitu, Raden Jusuf mengatakan bahwa ibunya sangat mencintai Snouck Hurgronje. Ia mencintai Snouck sebagai seorang Muslim yang alim, taat beribadah, serta menjalankan puasa. Ibunya tidak pernah ingin bercerai dari Snouck walaupun sepeninggal Snouck tahun 1906, ia mendapat banyak pinangan. Sadijah setia hingga wafatnya pada tahun 1974.
Menurut anak-anak Raden Jusuf, nenek Sadijah yang mereka panggil dengan nama Buah, sangat lekat dengan surat-surat yang ditulis dan dikirimkan Snouck dari Belanda hingga wafatnya tahun 1936. Surat-surat itu selalu ditujukan “Kepada Putri Sundaku yang Tercinta…” Sayang, menurut Raden Jusuf surat-surat ini hilang setelah masa Perang Dunia II.
