PANDEMI COVID-19 menimbulkan dua bentuk ekstrimitas: kecemasan dan ketidakpedulian. Kedua kutub ekstrim itu membutuhkan komunikasi massa yang mampu menjembatani antara kebijakan pemerintah dan sikap positif masyarakat di tengah pandemi yang masih terus memuncak. Realitasnya, pemerintah Indonesia seperti kehilangan arah dalam memilih medium komunikasi massa. Pemerintah memilih menggunakan influencer daripada media massa arus utama. Demikian Dian Tri Hapsari dalam tulisannya berjudul Adaptasi Kekuatan Media Arus Utama di Tengah Media Baru dan Pandemi
Juru Bicara Kepresidenan, Fadjroel Rachman, mengatakan aktor digital sebagai key opinion leaders merupakan aktor penting dalam masyarakat berjaringan di tengah perkembangan era transformasi dan demokrasi digital saat ini.Â
Dalam dua-tiga tahun terakhir, masyarakat Indonesia disuguhi perkembangan industri media massa konvensional yang cukup berdarah-darah.
Baca Juga:Soerabaja Courant Ungkap Pernikahan Snouck Hurgronje dengan Putri Penghulu Besar CiamisJadi Telik Sandi Hindia Belanda, Snouck Hurgronje Pernah ke Cirebon?
Sejumlah nama besar yang telah memiliki basis pembaca loyal dan malang-melintang sejak belasan, bahkan puluhan tahun, dipaksa tutup karena tidak bisa mengikuti arus informasi digital. Harian Soccer, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, The Jakarta Globe, Tabloid Bola, Majalah HAI dan terakhir, Rolling Stone Indonesia memutuskan untuk menghentikan percetakannya.
Mayoritas manajemen media massa tersebut memilih untuk menutup edisi cetak dan melakukan transformasi atau migrasi menuju laman digital. Taktik ini menjadi favorit mengingat pertumbuhan pembaca via daring melesat cepat dalam satu dasawarsa terakhir.
Belum lagi strategi sebagian perusahaan media massa yang mengurangi atau membatasi penerbitan di sejumlah daerah, seperti yang dilakukan oleh Koran Sindo dan Koran Tempo.
Ini selaras dengan data Serikat Perusahaan Pers (SPS). SPS menyebutkan, jumlah penerbitan media cetak secara nasional pada 2017 merosot menjadi 850 penerbitan atau tersisa tinggal 57,54% dari 2003 yang mencapai 2.002 penerbitan.
Dari sisi tiras atau eksemplar yang terjual, selama 15 tahun dari 2002-2017, nyaris tidak ada laju pertumbuhan yang signifikan yakni ada di kisaran 17 juta eksemplar. Padahal, pada 2013 perusahaan penerbitan media massa sempat memiliki prospek cerah yaitu sanggup menjual hingga 22,34 juta eksemplar.
Adapun, ceruk pembaca potensial di Indonesia yang tercermin dari pertumbuhan jumlah penduduk terus melaju. Menurut World Bank, jumlah penduduk Indonesia mencapai 261,1 juta pada 2017, atau bertambah 43,6 juta orang sejak 2002.
