Kenapa dinamakan Lemah Wungkuk? Ada banyak versi dan satu sama lain susah untuk ditelusuri lagi kebenarannya. Tebakan terbaik adalah, Lemah berarti tanah atau daerah, sedangkan Wungkuk berarti bungkuk atau membungkuk seperti udang, artinya daerah udang atau negeri yang membungkuk (menghormat).
Dukuh ini berkembang pesat dengan sangat cepat. Banyak pendatang yang kemudian bermukim di dukuh ini. Pedagang dari berbagai daerah pun datang untuk membeli udang, petis dan terasi. Waktu berlalu, dan dukuh itu telah berkembang menjadi kota.
Baca: Melihat Cirebon Lawas Lewat Foto Koleksi Royal Tropical Institute Belanda
Baca Juga:Korespondensi Sriwijaya dengan Khilafah Bani Umayyah‘Persahabatan’ Haji Hasan Mustapha dan Snouck Hurgronje
Cakra Buana tetap sebagai Kuwu (sekarang setingkat lurah atau kepala desa) di Lemah Wungkuk, sekaligus sebagai Kuwu kehormatan di tiap kampung atau desa. Nama kotanya diambil dari nama petis (Cai Rebon atau air udang), dan para pedagang dari luar daerah menyebutnya terasi (Gerage).
Penamaan Gerage karena para pedagang, yang antri hendak membeli terasi, tak sabar menunggu proses pembuatannya. Mereka berteriak “Geura, oge!”, “Geura, ge!”, “Geura! Age!”. Dari situlah asal muasal nama Grage.
Sebagai kuwu sesepuh (bahkan untuk seluruh kampung di Cirebon), Pangeran Cakra Buana sering disebut sebagai Kuwu Grage atau Kuwu Cirebon. Sebagai pembuka wilayah, beliau dikenal sebagai Mbah Kuwu Sangkan.
Sementara, berdasarkan kitab Purwaka Caruban Nagari nama ‘Cirebon’ berasal dari kata syarumban yang berarti pusat dari percampuran penduduk. Selanjutnya disebut Caruban, Carbon, Cerbon, Crebon, Kemudian Cirebon. Pada saat itu, penduduk setempat menyebut Crebon dengan sebutan Negara Gede, dan diucapkan menjadi Garage lalu Grage.
Penulis: DA. Setiawan, wartawan tinggal di Cirebon
