Jadi, Grage Itu Apanya Crebon?

Jepretan Layar 2021 01 17 pukul 10.32.40
Lambang Kotamadya Cirebon tahun 1927 (Leiden University Libraries)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Tidak semua warga Cirebon paham dan tahu apa itu Grage? Apalagi, saya yang baru dua tahun, ber-E-KTP Cirebon. Saya baru kenal Grage saat berkunjung ke pusat perbelanjaan di Kota Cirebon, yang bernama Grage Mall.

“Pertama kali saya menginjakkan kaki di Cirebon. Grage saya pikir bahasa Inggris,” kata Khairul Anwar, kawan saya, Redaktur Pelaksana Koran Radar Cirebon, asli Lombok.

Baca:

“Orang luar Cirebon yang berkunjung ke Cirebon menyebut Grage dengan sebutan grass,” imbuh Mas Oded, yang kesehariannya meliput desk kriminal untuk radarcirebon.com. 

Baca Juga:Korespondensi Sriwijaya dengan Khilafah Bani Umayyah‘Persahabatan’ Haji Hasan Mustapha dan Snouck Hurgronje

Suatu hari saya berkumpul bersama almarhumah ibu mertua, mimi (ibu) semasa masih hidup. Adik kandung saya, yang baru tiba dari Yogyakarta, hendak berpamitan pergi jalan-jalan ke Grage Mall kepada mimi.

“Mi, mau ke Grage, dulu, ya,” kata adik kandung saya.

Lah, iki ning Grage,” kata Mimi. (“Lah, ini di Cirebon”)

Mimi tak tahu kalau yang dimaksud Grage adalah Grage Mall. Dan adik kandung saya belum tahu kalau Grage adalah Cirebon.

Bagi generasi muda Cirebon, dan warga pendatang umumnya, Grage identik dengan Grage Mall. Tapi, bagi kalangan sepuh, Grage adalah nama lain Kota Cirebon.

Baca: Pertahankan Tradisi, Keraton Kanoman Gelar Tawurji

Jadi, Grage Itu Apanya Cirebon?

Ini hanyalah penggalan cerita turun temurun yang saya dengar dari para orang tua.

Cirebon hanyalah berupa dukuh yang bernama Lemah Wungkuk. Penduduk dukuh adalah beberapa petani kebun dan nelayan penangkap udang. Udang di sungai dan muara sekitar dukuh ini, sangat berlimpah.

Melimpahnya udang, dijadikan upeti bagi Kerajaan Pajajaran. Bahkan sering kali, para rakriyan mantri dari daerah Palimanan yang diutus datang untuk menjemput upeti tersebut. Udang upeti ini, tidaklah berbentuk udang mentah, tapi sudah diolah agar lebih awet. Itulah yang kemudian dikenal dengan petis dan terasi.

Pendiri dukuh ini adalah Pangeran Cakra Buana alias Cakra Bumi, yang tidak lain adalah anak tertua Siliwangi, Raja Pajajaran. Menurut kisah, dalam sekian lama pengembaraan spiritual bersama adik perempuannya, Rara Santang, akhirnya bermukim di daerah ini.

0 Komentar