Al-Alamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Pada sebagian waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ijin kepada bumi untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Dari peristiwa itu, lalu timbul rasa takut pada diri hamba-hamba Allah, taubat dan berhenti dari perbatan maksiat, tunduk kepada Allah dan penyesalan. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, pasca gempa. “Sesungguhnya Rabb kalian mencela kalian”, Umar bin Khaththab Radhiyallahu ’anhu, pasca gemba di Madinah menyampaikan khutbah dan nasihat ; beliau Radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Jika terjadi gempa lagi, saya tidak akan mengijinkan kalian tinggal di Madinah”. Selesai perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah-.
Atsar-atsar dari Salaf tentang hal ini sangat banyak. Maka saat terjadi gempa atau peristiwa lain, seperti gerhana, angin ribut atau banjir, wajib segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, merendahkan diri kepadaNya dan memohon afiyah kepadaNya, memperbanyak dzikir dan istighfar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana.
“Artinya : Jika kalian melihat hal itu, maka segeralah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, berdo’a dan beristighfar kepadaNya” [2]
Baca Juga:Jadi, Grage Itu Apanya Crebon?Korespondensi Sriwijaya dengan Khilafah Bani Umayyah
Disunnahkan juga menyayangi fakir miskin dan bershadaqah kepada mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.
“Artinya : Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihani” [3]
Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.
“Artinya : orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Kasihinilah yang di muka bumi, kalian pasti akan dikasihani oleh (Allah) yang di atas langit” [4]
Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.
“Artinya : Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang” [5]
Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahulah, bahwa saat terjadi gempa, dia menulis surat kepada pemerintah daerah agar bershadaqah.
Diantara faktor terselamatkan dari segala keburukan, yaitu pemerintah segera memegang kendali rakyat dan mengharuskan agar konsisten dengan al-haq, menerapkan hukum Allah Azza wa Jalla, di tengah-tengah mereka, memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mencegah kemungkaran. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijakasana” [At-Taubah : 71]
