CARUBAN NAGARI-Fenomena alam berupa water spout nampak di tengah-tengah waduk gajah mungkur Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, pada 20 Januari 2021 sekitar pukul 15.45 WIB. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan terdapat perbedaan mendasar antara fenomena water spout dan angin puting beliung akibat kondisi anomali cuaca.
Menurut peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN Dr. Erma Yulihastin, perbedaan water spout dengan puting beliung dapat diidentifikasi dari koneksinya dengan media air yang terdapat di bagian dasarnya.
Perbedaan:
Angin puting beliung / small tornado:
Memiliki kecepatan angin dan dampak kerusakan pada kisaran di bawah skala F-2 (Skala Fujita-2, menurut ahli tornado keturunan Jepang Tetsuya Fujita dari Universitas Chicago). Dengan demikian, puting beliung memiliki lintasan kurang dari satu kilometer dengan durasi hidup di bawah satu jam.
Water Spout:
Baca Juga:Usai Banjir Bandang Gunung Mas, Kabupaten Bogor Diterjang Bencana Longsor30 Persen Batas Kawasan Hutan Dihapus, Walhi: Perparah Bencana Hidrometeorologi
Merupakan tornado yang terkoneksi dengan air dan memiliki skala mikro, karenanya, fenomena ini hanya dapat terjadi di atas danau, tambak, sungai, bendungan, dan lain-lain.
Fase kehidupan Water Spout:
- Fase pembentukan awal, pada tahap ini terdapat dukungan temperatur, kelembapan dan pergeseran angin yang menjadi syarat bagi pembentukannya
- Fase awan cerah terbentuk di atas permukaan air.
- Awan cerah tersebut dikelilingi oleh awan disekitarnya yang berwarna abu gelap.
- Pembentukan corong berwarna terang yang memanjang dan berbentuk spiral.
- Corong spiral memanjang mulai tampak oleh pengamatan visual dan di bagian permukaan air terbentuk percikan air ke segala arah.
Pada saat tahapan kelima itu, peluruhan water spout terjadi ketika terdapat udara lembap atau uap air yang masuk ke dalam corong badainya.
Erma menjelaskan bahwa water spout secara visual dapat dikenali dari bentuknya yang seperti suatu belalai atau corong pipa panjang dan terlihat turun dari suatu awan jenis cumulus congestus atau cumulonimbus.
“Kejadian ini tak hanya langka tapi juga termasuk cuaca ekstrem karena menggambarkan badai super sel pada skala ruang yang mikro (puluhan meter),” ujar Erma dalam keterangan resminya saat kejadian serupa terjadi di Cirebon, 4 Januari 2021 lalu.
