CARUBAN NAGARI-Bencana banjir akibat luapan air Sungai Cimanuk yang melanda di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat meluas pada Senin (8/2/2021) malam. Sebanyak 18 kecamatan terendam banjir setinggi 1,5-2 meter.Â
Baca: Cimanuk Meluap, Legenda Tenggelamnya Kerajaan Manukwara
Akibat banjir tersebut, jalan pantai utara (pantura) Indramayu. Ketinggian air yang merendam jalur pantura mencapai 50 sentimeter (cm).
Ratusan rumah di Desa/Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu menjadi lokasi terparah akibat banjir. Ketinggian air di wilayah ini bervariasi dari 1,5 meter hingga 2 meter.
Baca Juga:Cimanuk Meluap, Legenda Tenggelamnya Kerajaan ManukwaraToilet Tembus Pandang di Taman, Apa Pendapatmu, Gaes?
Bahkan, ketinggian air yang merendam beberapa rumah warga dan jalan kampung yang dekat sungai, mencapai lebih dari 2 meter.
Sungai Cimanuk, merupakan salah satu sungai terpanjang yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Sungai ini mengalir dari hulu yang berada di sekitar Garut, kemudian melawati Sumedang, Majalengka hingga berakhir ke hilir di daerah Indramayu. Sungai Cimanuk merupakan salah satu ikon kota Indramayu.
Sebagaimana fungsi umum sebuah sungai, yakni sumber kehidupan: air untuk kebutuhan rumah tangga, air untuk pesawahan, air untuk ladang dan kebun, air untuk perikanan darat, dan fungsi sungai saat musim hujan, Cimanuk ternyata juga menyimpan jejak legenda yang sangat panjang.
Diantaranya, Jaka Bajul adalah sosok legenda yang berasal dari bangsa siluman yang menghuni aliran sungai Cimanuk.
Konon, di masa Desa Jatisawit dipimpin Kuwu Jagantaka, Ki Lebe Talunkanta menemukan seekor anak buaya dari bibir Sungai Cimanuk. Kemudian anak buaya itu dipelihara di sebuah kolam yang berada di depan kantor kuwu. Setelah buaya itu besar, lantas menjelma seorang pemuda tampan dinamakan Ki Jaka Bajul.
Ki Jaka Bajul berkeinginan menikah dengan salah satu putri Ki Kuwu Jagantaka. Maka menikahlah si pemuda ganteng itu dengan putri Ki Kuwu. Ki Jaka Bajul pindah ke habitatnya di sungai Cimanuk hidup bersama istri tercintanya. Ki Jaka Bajul berjanji akan selalu membantu warga Desa Jatisawit jika terjadi musibah asalkan diberikan tanda dengan taluan bedug.
Kesaktian Ki Jaka Bajul hingga sekarang masih sering terjadi. Seandainya ada musibah seperti terjadi keributan, musim paceklik, wabah penyakit, serangan hama tanaman, warga setempat sering bertemu dengan pasukan buaya mendarat ke pelataran wilayah Desa Jatisawit dan Desa Jatisawitlor. (*)
