Sayangnya, sistem drainase di DKI dibangun dengan daya tampung curah hujan antara 50 sampai 100 milimeter per hari. Drainase di kawasan tersebut tak mampu menampung air dengan curah hujan yang tinggi sehingga mengakibatkan luapan air sampai pemukiman.
“Perlu diketahui, sistem drainase kita itu didesain berdasarkan curah hujan 50 sampai 100 mililiter per hari. Makanya, kalau terjadi hujan ekstrem sampai 160 milimeter, terjadilah meluap,” jelas Yusmada.
Tapi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria membandingkan jumlah lokasi pengungsian banjir saat ini dengan kondisi saat kepemimpinan Joko Widodo menjabat Gubernur DKI pada tahun 2013.
Baca Juga:Pendaki Ini Tersesat Saat Mendaki di Gunung Lawu, Video: Muncul Burung Jalak Memandu hingga PuncakKondisi Kesehatan Ashanty Memburuk, Ini Pesannya
Pada banjir sejak Kamis, 18 Februari, terdapat 99 RT dari 30.470 RT yang terdampak banjir, jumlah lokasi pengungsian baru tercatat 2 lokasi.
“Kalau data sampai hari ini, kecil sekali jumlah pengungsian. Kalau melihat data dari tahun-tahun sebelumnya, terjadi penurunan signifikan,” kata Riza.
“Pada tahun 2013 umpamanya, titik pengungsi ada 1.115. Tahun 2015 ada 337 pengungsian. Di tahun 2018 tidak ada pengungsian, tahun 2019 ada 13 titik, tahun 2020 ada 70 titik. Tahun 2021 sedang kita rekap, sementara ada 1 sampai 2 pengungsian,” lanjut dia.
Riza juga membandingkan jumlah korban jiwa akibat bencana banjir. Pada tahun 2013 ada 38 korban jiwa, tahun 2018 1 jiwa, tahun 2019 2 jiwa, 2020 2 jiwa.
Prinsipnya, kata Riza, terjadi penurunan jumlah pengungsi dan korban jiwa yang cukup signifikan. Hal ini berkat upaya masyarakat Jakarta yang mendukung program-program pemerintah.
“Mudah-mudahan tahun 2021 ini tidak ada korban meninggal karena banjir. Warga yang terdampak juga demikian semakin berkurang, kelurahan terdampak dapat juga semakin berkurang, kecamatan terdampak juga berkurang,” tuturnya. (*)
