CARUBAN NAGARI-Perairan Cirebon sudah sejak lama dikenal sebagai tempat perburuan liar harta karun atau Benda Berharga Muatan Asal Kapal Tenggelam (BMKT). Perburuan tidak hanya dilakukan oleh penyelam tradisional dan nelayan lokal dengan peralatan yang sederhana, tetapi diduga melibatkan sindikat internasional.
Baca: Harta Karun Perairan Cirebon: Ratu Mistis Dewi Rara Kuning, Dewi Lanjar Penguasa Pantai Utara Jawa
Sekira 640 lokasi benda berharga BMKT, 120 titik di antaranya terletak di wilayah perairan Cirebon.Â
Baca Juga:Luhut Binsar Pandjaitan: Kita Takut Megathrust, bisa saja Terjadi di Pantai Barat dari Sumatera, Pantai Selatan JawaHarta Karun Perairan Cirebon: Ratu Mistis Dewi Rara Kuning, Dewi Lanjar Penguasa Pantai Utara Jawa
“Perairan Cirebon menjadi lahan perburuan bagi pencari harta karun dari seluruh dunia,” kata Komandan Lanal Cirebon, Letkol (P) Deny Septiana di okezone.com dikutip politik.radarcirebon.com, Kamis (4/3).
Menurut Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, diketahui hampir seluruh keramik kapal karam Cirebon berasal dari China abad ke-9 M – 10 M atau masa Dinasti Tang Akhir /Lima (5) dinasti. Sebagian besar keramik China tersebut merupakan produksi kiln (tempat pembakaran) di Provinsi Zhejiang China.
Zhejiang merupakan pusat dan tempat awal keramik kualitas terbaik di produksi di China, dan telah berkembang sejak 1000 tahun yang lalu. Selain terdapat juga keramik-keramik jenis lain yang diproduksi di luar Zhe Jiang seperti keramik putih dan keramik hijau lainnya. Semua wadah berhias didekorasi dengan pola hias bunga-bunga, hewan, lengkung-lengkung, dan geometris. Seluruh hiasan tersebut diterapkan dengan menggunakan teknik ukir, cetak dan gores.
Baca: Ada 120 Titik Lokasi Harta Karun di Perairan Laut Cirebon, Sebagian Besar Kapal Karam China
Disadur dari laman dkp.riau.go.id yang mengutip data hasil survei Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Muatan Kapal Tenggelam Indonesia (APPP BMKTI), dari semua lokasi kapal tenggelam itu, diperkirakan terdapat harta karun sekitar US$ 12,7 miliar. Jika dihitung dengan kurs rupiah (red-saat itu, tahun 2017) Rp 13.300 per dolar Amerika Serikat (AS), maka nilai ekonomi dari harta karun itu bisa mencapai Rp 168,91 triliun.
“Potensi nilai BMKT dari 463 titik memang sampai ratusan triliun rupiah,” kata Kasubdit Air Laut, Non Energi, dan BMKT DJPRL KKP, Zaki Mahasin.
Menurut Zaki, harta karun di bawah laut Indonesia apabila dilelang mempunyai harga jual yang tinggi, mengingat BMKT tersebut sangat bersejarah. Lebih jauh dia menjelaskan, dari 10 pengangkatan BMKT di bawah tahun 2010, pengangkatan harta karun dari kapal karam di perairan Cirebon sudah ditaksasi dengan nilai mencapai US$18 juta atau setara Rp239,4 miliar (kurs Rp 13.300 per dolar AS). Pemerintah dan pihak swasta berhasil menemukan dan mengangkat kurang lebih 240 ribu item BMKT dari perut laut Cirebon. Sementara hasil pengangkatan di lokasi lain belum ditaksasi oleh penilai.
