Dia menyelidiki ratusan keping tembikar termasuk 449 pinggiran bejana keramik yang digunakan untuk membuat garam. Dua dari mahasiswa pascasarjana dapat mereplikasi tembikar pada printer 3D di Visualisasi Pencitraan Digital McKillop di lab Arkeologi di LSU berdasarkan pindaian yang diambil di Belize di lokasi penelitian.
Dia menemukan bahwa botol keramik yang digunakan untuk merebus air garam memiliki ukuran standar; dengan demikian, produsen garam membuat unit garam standar. “Diproduksi sebagai unit homogen, garam mungkin telah digunakan sebagai uang dalam pertukaran,” kata McKillop.
Wawancara etnografis dengan produsen garam modern di Sacapulas, Guatemala yang dikumpulkan pada tahun 1981 mendukung gagasan bahwa Maya kuno juga mungkin memandang garam sebagai komoditas yang berharga. Bahkan garam kemungkinan jadi tabungan mereka.
Baca Juga:Muhammadiyah Resmi Subuh Mundur 8 MenitKenali Tanda-Tanda Orang yang Jadi Tumbal Pesugihan
Diketahui, data tahun 2016, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, memiliki tambak garam rakyat terluas di Indonesia dengan luas lahan 3.858 hektare dan produktivitas per hektare sebanyak 130 ton.
Untuk urutan kedua lahan produksi garam terbesar, yaitu Sampang Pulau Madura, Jawa Timur, dengan luas lahan 3.064 hektare, berikutnya Indramayu dengan luas lahan produksi garam 2.741 hektare.
Dalam sejarahnya, Indonesia dulu pernah berjaya dengan produksi garam. Menurut Miranda Harlan dalam Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek (2011), bahwa pada tahun 1990-an, Indonesia berjaya dengan produksi garamnya. Lahan tambak garam luas, didukung dengan bergairahnya sentra garam nasional di banyak tempat menjadi cerita di balik kejayaan tersebut. Bisa dibilang, Indonesia sukses mencapai swasembada garam konsumsi dan predikat pengekspor garam pun disandang.
Lebih lanjut, Miranda Harlan menyebut kejayaan produksi garam Indonesia berbalik sejak Akzo Nobel memprakarsai kampanye besar-besaran penggunaan garam beryodium di Indonesia. Sentra garam nasional berguguran. Lahan tambak garam terbengkalai. Produksi nasional turun drastis. Ribuan petambak kehilangan mata pencaharian. Dan sebaliknya, impor garam terus mengalir hingga kini. (*)
