Dalam memimpin Kementerian Riset dan Teknologi, Habibie laksana ahli dalam segala bidang. Tiap gagasan yang dikeluarkan Habibie selalu dibekali dengan strategi yang jelas. Termasuk saat mengembangkan Puspiptek.
“Habibie, yang mengembangkan industri pesawat terbang Indonesia pada saat itu memerhatikan revolusi ilmiah penting yang tengah terjadi di bidang biologi molekuler, yang jauh dari bidang keahliannya. Ini adalah bukti pemikiran visionernya sebagai Menteri Riset dan Teknologi,” tulis Sangkot Marzuki, dalam tulisannya di The Conversation.
Di bawah kepemimpinan Habibie, kawasan Puspiptek dikembangkan dengan serius. Habibie membuat kawasan itu dengan mengambil contoh pusat inovasi teknologi Amerika Serikat (AS), Silicon Valley.
Baca Juga:Diduga Menista Ajaran Islam, Jozeph Paul Zhang Bikin Geger Kaum MuslimVideo Viral Jokowi Saat Berwudhu Ditulis ‘Lupa Diberitahu’ Tidak Menggulung Celananya, Ini Tanggapan Warganet
Kala itu, Silicon Valley yang terletak di selatan San Fransisco, California itu dapat menampung dua ribu perusahaan pengembang teknologi. Habibie secara tak langsung jadi orang pertama yang menjalankan ide membuat taman teknologi dan melengkapinya dengan fasilitas pendukung, seperti universitas, industri pendudukung inovasi, serta institusi finansial.
“Meskipun Puspiptek tidak dibangun persis seperti Silicon Valley di California, suatu model yang sangat mirip dari sebuah taman teknologi di mana para peneliti dan pengusaha universitas bekerja sama untuk berinovasi,” ujar Sulfikar Amir dalam buku The Technological State in Indonesia (2012).
“Mereka memiliki persamaan dalam hal para ilmuwan dan insinyur bergerombol secara geografis di dalam area. Di daerah yang sekarang adalah Provinsi Banten, Puspiptek dibangun sebagai distrik spesial, bukan hanya untuk tempat kerja, melainkan juga perumahan bagi para peneliti dan fasilitas umum lainnya seperti pasar, fasilitas keagamaan, dan sekolah. Ini adalah sebuah kota tersendiri,” tambahnya.
Puspiptek yang dibangun Habibie di Serpong berada di atas lahan seribu hektare. Di atas lahan tersebut berdiri sebuah kompleks seluas 500 hektare berisi laboratorium dan kelengkapan riset multidisiplin sesuai dengan standar internasional.
Alokasi lahan itu, di antaranya 350 hektare untuk industri teknologi dan 150 hektare untuk kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI) dan kompleks perkantoran yang juga mencakup perkantoran Akademi Imu Pengetahuan Indonesia, Dewan Riset Nasional, Akademi Rekayasa Nasional Indonesia, hingga Akademi Kedokteran Nasional Indonesia.
