Puspitek ‘Silicon Valley’ Dibangun Habibie Sejak Tahun 1976

1 0
Menara Puspiptek
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Narasi pengembangan teknologi telah terdengar sejak Indonesia dipimpin Soeharto. Pendirian Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) pada 1976 jadi gebrakannya. Puspiptek kemudian dielu-elukan sebagai taman teknologi. Puspiptek disebut pula sebagai “Silicon Valleynya” Indonesia.

The Smiling General sepakat kemajuan teknologi dapat mengangkat derajat Indonesia. Bahkan sebelum ia mengambil alih kekuasaan. Masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto jadi era di mana pengembangan teknologi dilakukan secara masif.

Sebagai wujud keseriusan, pemerintah mendirikan kawasan Puspiptek di Serpong, Tangerang. Puspiptek bermula dari gagasan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Sumitro Djojohadikusumo (1972-1978).

Baca Juga:Diduga Menista Ajaran Islam, Jozeph Paul Zhang Bikin Geger Kaum MuslimVideo Viral Jokowi Saat Berwudhu Ditulis ‘Lupa Diberitahu’ Tidak Menggulung Celananya, Ini Tanggapan Warganet

Dalam konteks itu Puspiptek jadi sarana penyelenggara riset yang terarah untuk kemajuan teknologi Nusantara. Akan tetapi, kepemimpinan Sumitro, yang juga ayah dari Prabowo Subianto yang hari ini menjabat Menteri Pertahanan tak berlanjut.

Soeharto lalu turun tangan memberikan posisi Mentristek kepada Bacharuddin Jusuf Habibie. Terpilihnya Habibie adalah hal yang sudah dinanti-nanti oleh Soeharto sejak lama. Sebelum menjabat sebagai Menristek, Habibie sempat diajak berkunjung ke kediaman Soeharto pada akhir Januari 1974.

Dalam pertemuan itu, Habibie diberikan tiga petunjuk. Satu, Habibie diperkenankan membuat industri pesawat. Kedua, soal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Ketiga, pengembangan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek).

“Memang sepak terjang Habibie ketika baru-baru mendapat tugas dari Presiden Soeharto untuk membangun pabrik pesawat terbang Nurtanio yang kemudian menjadi IPTN, mendirikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Puspitek Serpong, banyak yang menentangnya,” tulis A. Margana dalam artikel di majalah Tempo berjudul Ini Dia Habibie Broer (1992).

“Itu dianggap tak realistis dan bukan prioritas bagi pembangunan kala itu. Sekarang pun suara sumbang itu masih sering terdengar. Tapi Habibie jalan terus. Ia selalu yakin bahwa dirinya yang paling benar. la yakin akan gagasannya bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh sumber daya manusia yang cerdik pandai, menguasai teknologi,” tertulis dalam lanjutan artikel.

Soeharto memberi kebebasan pada Habibie untuk menjalankan amanahnya. Kendati demikian, Soeharto hanya memberi satu catatan: jangan mengobarkan revolusi. Lantaran itu Habibie menjalankan petunjuk dari Soeharto dengan sebaik-baiknya.

0 Komentar