Sebelum Hand Sanitizer Ngetren, Sudah Ada Sejak Sriwijaya hingga Air Padasan di Tanah Jawa

unnamed 1
Padasan biasanya berupa gentong dari bahan gerabah dan berisi air untuk mencuci tangan dan kaki. (Foto: Istimewa)
0 Komentar

Hingga seterusnya, padasan memang menampung air untuk membersihkan diri. Ia terletak di luar pagar rumah agar siapapun tak sungkan membuka pancuran air dan menggunakannya untuk membersihkan kaki. Bahkan, ketika air di sekitar penduduk Jawa masih jernih, air padasan pun bisa pula diminum. Pemilik rumah pun tak bosan mengisi padasan itu agar airnya senantiasa penuh.

Di sisi lain, terdapat pula kebiasaan untuk membersihkan tangan dan kaki menggunakan air padasan sebelum seseorang bertamu ke rumah seseorang. Secara filosofis, ini mengisyaratkan bahwa seseorang bertamu dalam kondisi yang jernih.

Tak hanya di Jawa saja, di Kerajaan Sriwijaya, yang eksis di era 650-1377 M, sudah ada catatan mengenai kebiasaan para biksu setempat dalam membersihkan diri. Hal ini dicatat oleh Yi Jing [It-sing] dalam Kiriman Catatan Praktik Buddadharma dari Lautan Slatan.

Baca Juga:Beredar Foto Buku Tertulis Sunan Kudus Syiah, Begini Tanggapan Habib Abubakar AssegafLawang Sanga, Syahbandar Masa Kesultanan Cirebon

Seperti dilansir Mongabay, catatan Yi Jing mencakup cara hidup sehat para biksu, misalnya soal aturan pembersihan setelah bersantap, “Dua Kendi untuk Menyimpan Air”, bahkan hingga “Tentang Buang Air Besar”.

Pembersihan setelah buang air besar ternyata tidak hanya menggunakan air. Para biksu juga menggunakan bubuk batu bata. Sementara itu, tangan kiri yang dipakai membersihkan pun harus disterilkan berulangkali.

“Saya percaya hidup sehat itu bukan hanya berlaku bagi kalangan biksu, juga di masyarakat umum. Para biksu ini mengajarkan hal-hal baik bagi masyarakat,” sebut Dr. Husni Tamrin, budayawan Palembang sekaligus pakar kebudayaan melayu Sriwijaya, kepada Mongabay Indonesia, (12/5/2020).

Selain teladan dari para pemuka agama, lingkungan Indonesia di masa lalu juga sangat mendukung perilaku hidup sehat. Hal ini seperti dikatakan peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR), Yusuf Bahtimi. Hal ini seakan mengingatkan bahwa alam memberi manusia ruang dan kemudahan untuk hidup dengan sehat dan layak.

“Hutan yang masih lestari membuat air bersih melimpah, sehingga mencuci tangan, mandi, mudah dilakukan,” pungkas Bahtimi. (*)

0 Komentar