Sebelum Hand Sanitizer Ngetren, Sudah Ada Sejak Sriwijaya hingga Air Padasan di Tanah Jawa

unnamed 1
Padasan biasanya berupa gentong dari bahan gerabah dan berisi air untuk mencuci tangan dan kaki. (Foto: Istimewa)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Jauh sebelum hand sanitizer mendadak ngetren, nenek moyang kita di Nusantara sudah punya kearifan lokal tersendiri sebagai cara mereka menjaga kebersihan. Di masyarakat Jawa dikenal adanya padasan yang airnya selalu diisi penuh saat subuh. Bahkan di Kerajaan Sriwijaya, di era 650-1377 M, para biksu tercatat sudah memiliki aturan yang paten soal urusan mencuci tangan.

Pandemi virus korona menyibak banyak hal, tak terkecuali soal betapa krusialnya urusan membersihkan tangan. Dari yang semula orang terbiasa mengucek-ucek mata setiap waktu, tanpa peduli tangannya bersih atau penuh kuman, sekarang orang makin sadar bahwa tangan bisa jadi sarang kuman hingga virus COVID-19. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyarankan agar setiap orang rutin mencuci tangan selama 20 detik, menggunakan air mengalir serta sabun.

Namun, bila ditilik secara sejarah dan antropologis, seharusnya warga Nusantara tidak canggung-canggung amat dengan budaya mencuci tangan. Hal ini karena mengusap-usap tangan, kaki, bahkan wajah, dengan air bersih sudah jadi bagian hidup sehari-hari nenek moyang di Nusantara.

Baca Juga:Beredar Foto Buku Tertulis Sunan Kudus Syiah, Begini Tanggapan Habib Abubakar AssegafLawang Sanga, Syahbandar Masa Kesultanan Cirebon

Satu ‘artefak’ budaya mencuci tangan yang khas Nusantara adalah padasan, yaitu gentong gerabah yang biasa ditemui dalam kultur masyarakat Jawa. Padasan biasa diletakkan tuan rumah di area depan halaman, di luar pagar. Ia bisa berupa gentong dengan pancuran kecil, atau yang menggunakan gayung dari batok kelapa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan padasan sebagai “tempayan yang diberi lubang pancuran (tempat air wudhu).”

Memang, gentong padasan punya elemen berkultur Islam (wudhu), karena dulunya alat ini menjadi alat syiar oleh seorang penyebar agama Islam, Kanjeng Sunan Kudus. Kala itu, berdasarkan catatan Sri Mulyati (2006) dalam buku Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, Sunan Kudus membuat padasan dengan delapan pancuran.

Ribet? Ini memang ada maknanya. Saat itu masyarakat setempat sudah mengenal agama Hindu dan Buddha, mereka pun mengenal apa yang disebut sebagai Asta Sanghika Marga, atau Jalan Berlipat Delapan. Padasan dengan delapan pancuran ini dimaksudkan Sunan Kudus sebagai delapan jalan kebajikan, jalan untuk membersihkan diri.

0 Komentar