Ajaran Pepali Pitu Raden Qasim Menantu Sunan Gunung Jati

d6d8be9db472de125816487bea044438
Kompleks Makam Sunan Drajad, Sunan Drajat di depan, istrinya di belakang (KITLV-1950)
1 Komentar

Pada akhirnya, Raden Qasim dijadikan imam pelindung oleh penduduk di pedukuhan Drajat. Sejak itulah, Raden Qasim mulai dikenal dengan nama Sunan Drajat.

Jika Sunan Ampel berdakwah dengan ajaran Moh Limo, Sunan Drajat berdakwah dengan Pepali Pitu atau 7 Dasar Ajaran.

Berikut ini Pepali Pitu sebagai pijakan kehidupan sehari-hari yang disampaikan oleh Sunan Drajat:

Baca Juga:Raden Makdum Ibrahim Penemu Jenis Gamelan dengan Tonjolan di Bagian TengahRaden Said Murid Sunan Bonang, Islamkan Penduduk Indramayu dan Pamanukan

  1. Memangun resep tyasing sasama (Membuat senang hati orang lain).
  2. Jroning suka kudu eling lan waspada (Dalam suasana gembira, hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada).
  3. Laksitaning subrata tan nyipa marang pringga bayaning lampah (Dalam mencapai cita-cita luhur, jangan menghiraukan halangan dan rintangan).
  4. Meper hardaning pancadriya (Senantiasa berjuang untuk menekan hawa nafsu duniawi).
  5. Heneng-Hening-Henung (Dalam diam akan dicapai keheningan, dalam hening akan dicapai jalan kebebasan mulia).
  6. Mulya guna panca waktu (Pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalani salat lima waktu).
  7. Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang lapar. Berikan pakaian kepada orang tak berpakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang kehujanan).

Sebagaimana ulama Wali Songo lainnya yang berdakwah lewat seni dan budaya, Sunan Drajat juga mahir menggubah sejumlah tembang.

Tembang terkenal yang digubahnya adalah tembang tengahan macapat pangkur untuk menyampaikan ajaran falsafah kehidupan kepada masyarakat.

Sunan Drajat juga pandai mendalang serta sesekali mementaskan pertunjukan wayang untuk sarana dakwahnya.

Peninggalan Sunan Drajat yang masih disimpan hingga sekarang adalah seperangkat gamelan yang disebut “Singo Mengkok” serta benda-benda seni lainnya.

Suhailid dalam Sejarah Kebudayaan Islam (2020) mengungkapkan, di masa tuanya, Sunan Drajat pindah ke kawasan Dalem Wungkur, arah selatan dari Desa Drajat. Ia menghabiskan masa tuanya dengan berdakwah di sana.

Pada 1522 M, Raden Qasim atau Sunan Drajat tutup usia. Makamnya terletak di Desa Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. (*)

1 Komentar