Ajaran Pepali Pitu Raden Qasim Menantu Sunan Gunung Jati

d6d8be9db472de125816487bea044438
Kompleks Makam Sunan Drajad, Sunan Drajat di depan, istrinya di belakang (KITLV-1950)
1 Komentar

CARUBAN NAGARI-Raden Qasim atau Sunan Drajat adalah salah seorang anggota Wali Songo, majelis penyebar agama Islam dalam sejarah Jawa pada abad ke-14 Masehi. Putra bungsu Sunan Ampel ini melakukan dakwah Islam dengan prinsip Pepali Pitu atau 7 Dasar Ajaran, selain melalui seni dan budaya.

Sunan Drajat lahir di Ampeldenta, Surabaya, pada 1470 M dengan nama Raden Qasim sebagai putra termuda Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila. Ia adalah adik dari Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang.

Selain Raden Qasim, Sunan Drajat memiliki banyak nama atau julukan lainnya, seperti Masaikh Munat, Raden Syarifuddin, Maulana Hasyim, Pangeran Kadrajat, atau Sunan Mayang Madu.

Baca Juga:Raden Makdum Ibrahim Penemu Jenis Gamelan dengan Tonjolan di Bagian TengahRaden Said Murid Sunan Bonang, Islamkan Penduduk Indramayu dan Pamanukan

Raden Qasim memperoleh ilmu keislaman langsung dari ayahnya, Sunan Ampel, yang memimpin pondok pesantren Ampeldenta, Surabaya. Setelah beranjak remaja, Raden Qasim merantau ke Cirebon untuk berguru kepada Sunan Gunung Jati.

Di Cirebon, Raden Qasim menikahi putri Sunan Gunung Jati yang bernama Dewi Sufiyah. Hingga kemudian, Raden Qasim kembali ke Ampeldenta bersama istrinya. Sesampainya di Ampeldenta, Sunan Ampel meminta Raden Qasim untuk berdakwah di daerah Gresik.

Raden Qasim menuruti perintah ayahnya, meneruskan perjalanan menuju Gresik. Ia menetap di Desa Banjarwati dan disambut baik oleh sesepuh kampung yang bernama Kiai Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Di Desa Banjarwati, Raden Qasim dinikahkan dengan putri Kiai Mayang Madu yang bernama Nyai Kemuning.

Di wilayah yang bernama Jelag, daerah yang memiliki medan lebih tinggi dari tempat lainnya di Desa Banjarwati, Raden Qasim mendirikan surau dan mengajar penduduk setempat. Kendati tergolong bangsawan, ia amat dekat dengan rakyat. Jiwa sosialnya tinggi serta mengutamakan kesejahteraan penduduk.

Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016) menjelaskan bahwa ajaran Islam yang didakwahkan Raden Qasim menekankan pada etos kerja keras dan empati berupa kedermawanan, sikap tenggang rasa, saling peduli, pengentasan kemiskinan, gotong royong, dan solidaritas sosial.

Ketika turun langsung ke masyarakat, Raden Qasim mengajarkan banyak hal kepada warga, dari cara membangun rumah, membuat alat-alat untuk memikul orang seperti tandu atau joli, dan lain sebagainya.

1 Komentar