Sesembahan Urang Sunda Kuno tergambar dalam lempir 23 ini. Tuhan sebagai sosok tiada taranya, mustahil dikenali panca indra dan tak bernama. Nama-nama seperti Sanghyang Manon (Maha Melihat), Sanghyang Keresa (Maha Menghendaki), Sanghyang Wisesa (Maha Kuasa), Sanghyang Karsa (Maha Pencipta) dan lainnya adalah sebutan untuk sifat-Nya. Sementara Sanghyang Tunggal dan Batara Guru dalam naskah Sanghyang Raga Dewata disebutkan sebagai “ciptaannya”.
Inya yugana, kalasakti ngaranya, inya yugana, lamun sabda pongpro golong.
Dia yang menciptakan, Kalasakti namanya. Jika sabda terlontarkan maka langsung jadi. (lempir 26).
Carek- [a] na tmn, ah / ……………………………., tanpa rupa tanpa kahanan, hanteu jeueungngeunnana.
Baca Juga:Sumedang Larang Penerus Pajajaran Dipimpin Pangeran Santri Keturunan Sunan Gunung JatiWestminster Abbey dan Lokasi Pemakaman Ratu Elizabeth II: Berisi Pintu Tertua di Inggris, Simpan Kulit Manusia yang Dikuliti?
Perkataannya benar, ah…………………………….., tanpa rupa tanpa tempat tiggal, bukan untuk dilihat (hanteu jeueungeunana = tiada bandingannya).(lempir 43).
Pemahaman Urang Sunda kuno di zaman Pajajaran tertuang dalam naskah Pantun Sakral Bogor. Berikut petikan naskah Pantun Bogor episode “Ronggeng Tujuh Kalasirna”
…Padahal, eta panyembahan teh saenyana mah panyembahan sakabehan ti babaheula dina sesebutan sewang-sewang basa sorangan panyembahan mah eta keneh eta bae. Anu ngan beda wungkul sesebutan lantaran beda bangsa nu boga basa…
…Padahal, penyembahan tersebut sesungguhnya sesembahan semua orang dari dulu kala dalam sebutan bahasa sendiri-sendiri yang disembah tetap itu-itu juga hanya beda cara menyebutnya saja karena berbeda bangsa yang memiliki bahasa… (Asura, 2016).
Kebudayaan Sunda mengalami proses, perubahan dan perkembangan kebudayaan sebagai hasil perjalanan sejarah. Perubahan itu terjadi, baik karena kreativitas dan dinamika pencipta dan pendukung kebudayaan Sunda sendiri (faktor intern), yaitu orang Sunda, maupun karena pengaruh dari luar (faktor ekstern), kebudayaan Sunda telah berulangkali mengalami perubahan.
Ditinjau dari sudut pengaruh kebudayaan luar, paling tidak kebudayaan Sunda telah mengalami lima kali perubahan besar, yaitu secara kronologis sebagai pengaruh, pertama, kebudayaan Hindu-Budha yang datang dari anak benua India, kedua, Kebudayaan Islam yang datang dari jazirah Arab, ketiga, kebudayaan Jawa yang datang dari tetangga dekat satu pulau Pulau Jawa, keempat, kebudayaan Barat yang datang dari benua Eropa, dan kelima, kebudayaan nasional karena Tatar Sunda terintegrasi dan menjadi bagian Indonesia dan kebudayaan global karena makin cepatnya kemajuan ilmu dan teknologi, terutama teknologi komunikasi yang memperpendek jarak dan meningkatkan mobilisasi manusia (Ekadjati, 2009).
