Ini ucapan orang-orang yang tenggelam dalam ketidaksadaran. Tertutup oleh kealpaan, karena mereka (dalam keadaan) tidak sadar, terlangkahi tersembunyikan, oleh pangkal kenistaan pada tubuh. Terpengaruhi oleh cerita-cerita dunia, membayangi dalam diri… (lempir 01)
…Lipi lupa di jati di maneh, hilang na tutur yyatna. Ja leungit na kapa geuhan, kasaputan (ku) ikang lupa, kaparingkus ku ikang tutur, lupa di jati di maneh pun.
…Pangkal kelupaan pada diri sendiri, Penyebab lenyapnya segala ucapan yang sesungguhnya, hilang dalam keteguhan, tertutup oleh kelupaan, terikat oleh yang diucapkan, lupa pada jati diri sendiri. (lempir 02).
Baca Juga:Sumedang Larang Penerus Pajajaran Dipimpin Pangeran Santri Keturunan Sunan Gunung JatiWestminster Abbey dan Lokasi Pemakaman Ratu Elizabeth II: Berisi Pintu Tertua di Inggris, Simpan Kulit Manusia yang Dikuliti?
Kutipan ini berisi petuah bagi yang ingin ber-tapa (berbakti/beramal). Tapa diartikan sebagai sebuah perilaku atau perbuatan atau amal dalam bahasa Indonesia. Bertapa dalam naskah ini bukan dimaksudkan sebagai bersemedi.
Gambaran Sosok Sesembahan dalam Naskah Sangyang Raga Dewata
Menelisik dan mencermati naskah ini memerlukan penelaahan yang mendalam. Karena sifat naskah didaktif dalam bentuk prosa-dialogis, mesti cermat mengamati sosok mana yang sedang bertutur atau berbicara. Umumnya sosok dalam naskah berupa dialog Sanghyang Raga Dewata (ciptaan/makhluk) dan Sosok Penciptanya yang disebut “tak bernama”.
Berikut beberapa teks dalam lempir-lempir naskah ini, penterjemahan dengan metode pendekatan sinkronisasi.
Carek- [a] na tmn, rupa reka ku waya. Ja aing nu ngayuga tan kayuga, ja aing nu digawe tan kapigawe, ja aing nu diguna tan kapiguna, …
Akulah yang membentuk tetapi tidak dibentuk, akulah yang menciptakan tetapi tak terciptakan, ya Akulah yang menggunakan tetapi tidak digunakan… (lempir 22).
Penerjemahan ulang pada kata Reka bentuk menjadi membentuk dan kata Gawe sebagai cipta menjadi menciptakan.Sebenarnya kata reka dan gawe berarti dan bermaksud sama. Namun karena bentuk kalimat sajak indah makan ditulis dalam bentuk kalimat majemuk berulang.
Ja aing nu hanteu, ja aing nu hanteu, ja i aing nu biheung, ja aing nu tan katuduh, ja aing nu tanpa ngaran…
Baca Juga:Jika Prabu Siliwangi Muslim, Maka Kisah Kian Santang Tidak AdaRajah Kalacakra di Gerbang Menara Kudus Ditakuti Pejabat
Ya, Akulah yang tiada (taranya), Ya Akulah yang Tiada Taranya, karena aku yang mustahil (dikenali Panca Indra), karena Aku yang tak tesebutkan (namanya), karena Aku yang tanpa nama… (lempir 23).
