Syekh Bentong adalah putra Syekh Quro ulama yang menyebarkan agama Islam di Tanah Sunda. Sementara Syekh Quro adalah putra Syekh Yusuf Siddik bin Syekh Jamaluddin Akbar al Husain.
Setelah diambil sebagai istri selir Bhre Kertabhumi yang waktu itu masih menjadi Raja Keling Majapahit, Siu Ban Ci atau Tan Eng Kian dikenal masyarakat Majapahit dengan sebutan “Putri Cina.”
Siu Ban Ci adalah ibunda Raden Patah, pendiri Kasultanan Demak Bintoro. Putri Cina ini adalah leluhur perempuan dari Raja-raja di Kasultanan Demak Bintoro.
Baca Juga:Membelah Perbukitan Cidepong, Cerita Terowongan Sepanjang 949 Meter di Desa SumurbandungMelacak Ibu Kota Kerajaan Pajajaran, Pakuan
Istri lainnya adalah selir bernama Dewi Wandan Kuning. Nama aslinya Bondrit Cemara, seorang pelayan istana asal daerah Wandhan, Sulawesi. Ia diambil istri selir Bhre Kertabhumi karena wangsit yang diterima saat sakit sipilis atau raja singa.
Dalam meditasinya, ia mendapatkan pawisik jika ingin sembuh, ia harus menikahi seorang pelayan wanita berdarah Wandhan. Perempuan itu harus menjadi istri Bhre Kertabhumi yang terakhir.
Bhre Kertabhumi sembuh setelah menikahi Bondrit Cemara. Ia kemudian dikenal sebagai Wandhan Kuning yang melahirkan Raden Bondan Kejawan.
Bondan Kejawan dititipkan Akuwu ring Tarub yang dikenal dengan Ki Ageng Tarub (Joko Tarub). Putra Bhre Kertabhumi itu selanjutnya menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Joko Tarub dari istrinya, Dewi Nawang Wulan.
Bondan Kejawan lantas memiliki anak bernama Getas Pendawa, Getas Pendhawa berputra Ki Ageng Selo berputra Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng Pamanahan berputra Panembahan Senopati, raja Mataram pertama.
Dewi Bondrit Cemara merupakan leluhur perempuan dari orang-orang Sela yang selanjutnya menurunkan Panembahan Senopati, pendiri kerajaan Mataram. (*)
