CARUBAN NAGARI-Jika Anda naik kereta api dari Jakarta ke Bandung, maka akan melewati Terowongan Sasaksaat yang merupakan peninggalan kolonial Belanda dan saksi sejarah awal mula adanya kereta api di Indonesia. Ada cerita misteri di balik terowongan ini.
Terowongan Sasaksaat yang berada di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat panjangnya mencapai 949 meter. Ini merupakan terowongan aktif terpanjang di Indonesia.
Menurut cerita, tiap malam Jumat dan malam Senin, muncul hawa panas dalam Terowongan Sasaksaat.
Baca Juga:Melacak Ibu Kota Kerajaan Pajajaran, PakuanFakta Petilasan Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Majalengka, Telaga Mas Tak Sembarangan Dipakai Berendam
Kemudian setiap tahun di lokasi ini juga ada ritual pemotongan satu kambing dan satu ekor ayam untuk penolak bala, karena di sekitar itu banyak dikubur para pekerja yang tewas akibat kerja paksa, disiksa, maupun diserang penyakit.
Konon, berdasarkan penuturan warga, pernah sekali telat dilakukan ritual pemotongan, maka ada hal aneh terjadi seperti terdengar suara gemuruh mirip suara kereta melintas di dalam terowongan, padahal tak ada kereta yang lewat.
Terowongan Sasaksaat yang membelah Perbukitan Cidepong antara Stasiun Maswati dan Stasiun Sasaksaat di KM 143+144, dibangun mulai tahun 1902 oleh Perusahaan Kereta Api Negara, Staatsspoorwegen (SS).
Melansir dari laman resmi Heritage KAI, sebelum pembangunan dimulai, masyarakat sekitar melakukan ritual sesajen, untuk meminta keselamatan agar tidak terjadi hal-hal yang buruk selama proses pengerjaannya.
Masyarakat sekitar waktu itu meyakini bahwa gunung yang akan dibolongin terowongan terdapat makhluk yang “menguasainya”.
Kala itu, pembangunan Terowongan Sasaksaat diserahkan kepada pemborong khusus orang Eropa. Mereka menggunakan teknik teknologi tinggi dari Belgia.
Dalam prosesnya, terdapat kendala yaitu lahan yang memiliki kadar air tinggi sehingga air merembes ke terowongan dan beresiko terjadi longsor. Selain itu terdapat batuan cadas pada tanah yang digali.
Baca Juga:Roh-Roh Orang Mati Bersatu dengan Batara Tunggal dan 10 Makam Tentara Nazi di Situs Arca DomasWonosobo ‘Wanua Seba’ Tempat Berkumpulnya Para Pendeta dari Seluruh Dunia Melalui Pantura Jawa
Saat proses pembangunan terowongan ini cukup banyak memakan korban jiwa. Di mana kebanyakan dari mereka meninggal karena tertimpa batu, longsor dan kecelakaan lainnya.
Konon kecelakaan yang memakan korban jiwa itu dipercaya, bahwa makhluk penunggu di bukit tersebut meminta tumbal.
Tak main-main dalam pengerjaan Terowongan Sasaksaat ini, dibangun siang dan malam dilakukan oleh tenaga kerja mulai dari orang pribumi, Cina dan Eropa.
