Terkuak Nama Asli Ciung Wanara yang Memilih Mengasingkan Diri

Ciung 7
Situs Sanghyang Bedil berupa susunan batu berbentuk segi empat. Ada 2 batu panjang yang patah. Satu batu posisinya tegak dan satu batu lainnya roboh. Nah, batu roboh itulah yang disebut Sanghyang Bedil karena bentuknya yang mirip bedil atau senapan. Konon situs itu merupakan tempat untuk menyimpan senjata.
0 Komentar

Semua itu dibersihkan. Dikendalikan satu persatu agar tenang dan dilupakan segala macam indria itu . Lidah atau alat pengecap (jitendriya) dilupakan sampai mati sehingga tidak ada kemarahan. Hasilnya bernama tapa (pengendalian) yang berarti kesetiaan; brata berarti tak henti-hentinya beryadnya kepada Tuhan; yadnya puja berarti segala suguhan yang baik. Itu dipersembahan kepada Tuhan yang menjaga Sanghyang Atma (jiwa) . Dengan melakukan pemujaan terus-menerus. Sedangkan arcana berarti segala kesenangan Tuhan yang menjadi sumber segala pengetahuan.

Demikian seorang raja yang memahami ajaran kependetaan dan memahami ajaran tapa, dan berkehendak menyiapkan tapa yang suci. Inilah yang dilakukan Prabu Ciung Wanara untuk memilih Manuraja Sunya, mengasingkan diri dengan tapa brata dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini merupakan puncak pertapaan, pasti dinanti ibarat sebuah tutup kantong dan akhir dari penganut ajaran kesunyataan, yang siap memayunginya.

Bunyi yang terdengar di angkasa tampak menyatu, itulah isinya kantong. la tampak halus bagaikan tanpa cinta. Kekal sebagai hadiah kependetaan sehingga menjadi wawas melihatnya. Mampu menghilangkan kotoran untuk mencapai kebahagiaan di alam Niskala. Tidak ada rasa takut kepadanya di saat memahami atau mengajarkan tentang kependetaan.

Baca Juga:Hari Santri, Kemenag Gelar Kongres Aksara Pegon 21-23 Oktober 2022Kasus Gagal Ginjal Misterius, 99 Anak Indonesia Meninggal Dunia Mayoritas Balita

Kesucian atau keteguhan pikiran (prabhanjita) menjadi tujuannya. Sedangkari di dalam hati diibaratkan medan pertempuran dan rasa sebagai senjata yang tidak bergerak- beranak dan beristri. Badan itu tidak sebagai badannya. Semua alat makan tempatnya tidur, permaisuri, taman, singasana, tidak ada rasa bimbang dan sedih padanya, juga kesaktian atau kewibawaan bagi orang di istana. Segala tempat beliau disembah dan diutamakan.

Demikianlah Prabhu Ciung Wanara sebagai raja utama bertapa di kerajaannya. Adapun negaranya diperintah oleh menantunya sendiri. Tidak henti-hentinya meraih kesempurnaan sehingga tentramlah Kerajaan Galuh ini. Manarah meninggal pada 798 saat ia berusia 80 tahun. “Daulat Prabu Ciung Wanara.”

Referensi

  1. Ekajati, Edi S. 2005. Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran. Yayasan Cipta Loka Caraka.
  2. Noorduyn, J.. 2005. Three Old Sundanese poem. KITLV Press.
  3. Naskah Carita Parahyangan (1580), fragmen Kropak 406. Naskah beraksara Sunda Kuno, bahasa Sunda Kuno. Koleksi: Perpustakaan Nasional RI.
  4. Sukardja, H. Djadja, 2002. Situs Karangkamulyan. Ciamis: H. Djadja Sukardja S. Cet-2.
  5. “Kerajaan Sunda Galuh” wikipedia.org Diakses 10 Juni 2019.
  6. Tim Penulis Sejarah. 1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat, Pemda Propinsi DT I Jawa Barat
  7. Dinas Pariwisata Ciamis, 2003. Wisata Ciamis.
  8. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1996/1997. “Ajaran-ajaran dalam Naskah Singhalangghaya Parwa”. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI 
  9. “Sekilas Sejarah Galuh” sejarahtatarpasundan.blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  10. “Kerajaan Galuh” West Java Kingdom blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  11. “Pohaci Rababu & Dewi Pangrenyep: Skandal Demi Skandal Penyulut Gonjang Ganjing” Babad Wong Wedok Nusantara blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  12. Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-330-5
  13. Saleh Danasasmita. 2003. Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Kiblat Buku Utama, Bandung. ISBN
0 Komentar