Revolusi Toilet di Pusaran 3 Periode Xi Jinping

xi jinping 1 169
Xi Jinping mengamankan periode ketiganya sebagai Presiden China dalam Kongres Partai Komunis China ke-20. (Foto: REUTERS/TINGSHU WANG)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Revolusi toilet terus meluas di China menyusul keberhasilan Presiden Xi Jinping mengamankan periode ketiganya dalam puncak Kongres Partai Komunis China (PKC) pada akhir pekan lalu.

Selama kongres PKC sepekan terakhir, sejumlah demonstrasi menentang kepemimpinan Xi Jinping sempat terjadi di Beijing meski pemberitaannya langsung disensor pemerintah dan perbincangannya dihapus dari berbagai platform media sosial.

Namun rasa frustrasi karena terus dibungkam tidak menghentikan masyarakat China untuk melontarkan unek-unek dan amarahnya terhadap pemerintah yang otoriter. Salah satunya melalui coretan di bilik toilet yang kemudian disebut revolusi toilet.

Baca Juga:Polisi Tangkap Pembunuh Sela Anggita Putri Warga Asal Jakarta yang Ditemukan Tewas di Kamar Kos IndramayuPrakiraan Cuaca Jawa Barat 24 Oktober Berawan dan Hujan, Berikut Penjelasan BMKG

Karena demonstrasi menjadi hal yang sulit dan langka dilakukan di China, revolusi toilet dinilai menjadi salah satu cara warga untuk terus memperluas gerakan penentangan terhadap rezim tanpa menjebloskan diri dalam bahaya penangkapan.

Slogan-slogan anti-Xi JInping pun semakin ramai ditulis di dinding dan pintu bilik-bilik kamar mandi umum. Pengkritik menganggap bilik toilet menjadi salah satu tempat terakhir yang aman dari pengawasan kamera pengintai CCTV.

Seorang mahasiswa senior di timur China, Raven Wu, mengamini anggapan tersebut. Ia pun ikut serta dalam revolusi toilet itu.

Wu mencoret pintu toilet sekolah dengan berbagai slogan anti-pemerintah, seperti “Kebebasan, bukan lockdown”, “Kehormatan, bukan kebohongan”, “Reformasi, bukan regresi”, hingga “Pemilu, bukan kediktatoran.”

Wu mencoret pintu toilet sekolah dengan berbagai slogan anti-pemerintah, seperti “Kebebasan, bukan lockdown”, “Kehormatan, bukan kebohongan”, “Reformasi, bukan regresi”, hingga “Pemilu, bukan kediktatoran.”

Di bawah slogan-slogan itu, Wu menggambar kepala Winnie the Pooh, tokoh kartun yang kerap disebut mirip dengan Xi. Di atas gambar itu, Wu menggambar garis coretan, tanda penolakan terhadap Xi.

“Saya merasa kebebasan yang sudah lama hilang ketika menggambar itu. Di negara dengan kebudayaan ekstrem dan sensor politik ini, tak ada ekspresi politik diperbolehkan,” ujar Wu kepada CNN.

Baca Juga:Anak Perempuan Pulang Mengaji, Ical Ingin Jambret HP, Pelaku Tusuk Korban Berhasil Ditangkap di CimahiBMKG Minta Warga Jawa Barat Waspada, Potensi Angin Kencang, Hujan Lebat Disertai Petir di Malam Hari, Simak Wilayahnya!

Ia kemudian berkata, “Saya merasa puas karena untuk pertama kalinya dalam hidup saya sebagai warga China, saya melakukan hal yang benar untuk rakyat.”

Tak hanya Wu, seorang pemuda yang baru saja lulus kuliah, Chen Qiang, juga tergerak ketika melihat coretan di salah satu toilet di barat daya China beberapa waktu lalu.

0 Komentar