CARUBAN NAGARI-“Segeralah sadar, tobatlah, hidup tidak akan abadi.” Kalimat tersebut disampaikan oleh ibu Nofriansyah Yosua Hutabarat, Rosti Simanjuntak, kepada Ferdy Sambo di persidangan lanjutan pembunuhan anaknya. Rosti menyampaikan banyak hal kepada Sambo.
Dalam persidangan, Rosti juga sempat menceritakan soal sosok Yosua yang taat, penurut dan baik. Tangis Rosti pecah saat menjelaskan hal tersebut.
Tangisan Rosti juga pecah saat menyampaikan sejumlah hal secara langsung kepada Sambo. Dia meminta Sambo sadar, selaku ciptaan tuhan.
“Mohonlah segera sadar sebagai ciptaan Tuhan,” kata Rosti.
Baca Juga:Pengacara Keluarga Brigadir J Bawa Bukti Sandal Milik Yosua Masih Bernodakan DarahPBNU Luruskan Pernyataan LDNU Soal Larangan Persebaran Paham Wahabi
“Anak saya Bapak habisi. Itu adalah hak Tuhan, Bapak. Bapak, saya ingatkan Bapak adalah ciptaan Tuhan,” sambung Rosti.
Rosti juga menyampaikan sejumlah hal kepada Putri Candrawathi yang ada di dalam ruangan sidang.
“Hati nurani Ibu sudah sia-sia, sudah mati,” kata Rosti ke Putri.
“Segera jujur agar arwah anakku tenang,” sambungnya.
Yosua tewas di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Dia diberondong peluru oleh Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atas perintah Sambo sebanyak 3-4 tembakan. Kemudian diakhiri dengan tembakan pamungkas oleh Sambo ke arah kepala Yosua. Sang brigadir yang mengenakan baju putih dan celana jeans biru pun tewas bersimbah darah.
Sambo dan Putri merupakan terdakwa dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Keduanya didakwa terlibat pembunuhan berencana bersama tiga orang lainnya: Richard Eliezer, Kuat Ma’ruf, dan Ricky Rizal.
Kelimanya didakwa melanggar Pasal 340 subsidair Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman 20 tahun penjara dan maksimal hukuman mati. (*)
