Sebagai warga biasa saya benar-benar merasa ada yang aneh. Mengapa? Sekadar informasi saja, rerata jalan berlubang tersebut kerap dilintasi banyak politisi (pengurus parpol, Anggota DPRD), birokrat, akademisi, pengusaha, jurnalis, dan profesi lain. Lalu, apakah mereka tidak merasa ada yang ganjal ketika jalan raya rusak berat tapi belum juga ada perbaikan? Selain itu, para pelajar yang pulang-pergi ke sekolah dan penjual yang pulang-pergi ke pasar juga kerap lewat di jalan yang tergolong berbahaya semacam itu. Tak sedikit yang menjadi korban: jatuh, terluka dan berdarah. Lalu, apakah mereka yang berwenang akan melakukan perbaikan jalan ketika sudah ada korban jiwa alias meninggal dunia?
Sebagai warga biasa saya tentu tak hendak menjadi pencaci yang pasif juga aktif. Karena itu, ada baiknya beberapa hal berikut dijadikan sebagai pilihan. Pertama, mendesak Walikota dan Bupati Cirebon agar memberi peringatan bahkan menginstruksikan kepada Dinas terkait agar melakukan pelayanan publik secara maksimal dengan mengedepankan kecepatan, akuntabilitas dan transparansi pelayanan publik. Termasuk meminta pertanggungjawaban para pengembang, atau pihak terkait agar memastikan jalan umum bisa digunakan oleh warga tanpa diliputi rasa khawatir hanya karena ruas jalan masih berlubang.
Syamsudin Kadir, Penulis Buku “Membaca Politik Dari Titik Nol”
