Pertemuan Sultan Sepuh Aloeda II-Pewaris Kesultanan Banjar Pangeran Yusuf Isnendar Cevi, Berikut Kisah Sultan Banjar yang Diasingkan Belanda

bf49c7cf e736 4dcc b26f 1f980d802978
Sultan Sepuh Aloeda II dan Pangeran Yusuf Isnendar Cevi dari Kasultanan Banjar di Omah Kulon Kraton Kasepuhan, Jumat (11/11)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Kunjungan silaturahmi Pangeran Yusuf Isnendar Cevi, keturunan keempat Pangeran Hidayatullah ke Kraton Kasepuhan, Jumat (11/11) sesuatu yang sangat berkesan bagi Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali.

“Alhamdulillah, saya mendapat kunjungan kehormatan dari Pangeran Yusuf Isnendar Cevi, dari Kasultanan Banjar. Kakek Nenek beliau diasingkan Belanda ke Cianjur,” ungkapnya di Omah Kulon.

Dalam sejarahnya, sosok Raja Kesultanan Banjar yang bergelar Sultan Hidayatullah Alwasikbillah sebagai seorang yang alim dan pantang menyerah. Tokoh yang lahir di Martapura, 1822 dan meninggal di Cianjur, Jawa Barat, 24 November 1904 di usia 82 tahun tersebut adalah pejuang mempertahankan tanah air dan menguatkan agama Islam dari pengaruh kolonialisme.

Baca Juga:Sulit Dipahami, Ada Lautan Susu di Laut Selatan JawaMalam Jumat Horor, Temuan 4 Jenazah di Dalam Rumah

Mengutip laman kalsel.prokal.co, Pangeran Yusuf Isnendar Cevi, keturunan keempat Pangeran Hidayatullah yang bermukim di Cianjur menerangkan, turun gunungnya Pangeran Hidayatullah adalah taktik licik penjajah Belanda. Pendekatan dengan tipu muslihat telah lama dilakukan penjajah yang kewalahan dengan gempuran perang gerilya sang sultan.

Dalam perjuangan, Belanda selalu gagal menangkap Pangeran namun ibundanya, Ratu Siti berhasil ditawan Belanda. Lantas dikabarkan tengah sakit keras dan akan dipancung. ”Waktu itu Ibu Ratu Siti dijaga oleh Wirakusuma yang menjabat sebagai Mangkubumi, sedangkan Pangeran Hidayatullah bergerilya di hutan-hutan bersama Demang Lehman,” terang Pangeran Yusuf.

Pangeran Hidayatulllah adalah sosok yang sangat cinta dengan Ibundanya, sehingga ketika turun gunung untuk berunding langsung ditawan Belanda, saking cepatnya karena takut dengan amuk rakyat, proses pengasingan hanya memerlukan tiga hari dan langsung diamankan serta dibawa ke Banjarmasin. Diasingkan ke Batavia selanjutnya ke Cianjur. ”Beliau tidak pernah menyerah dan berjuang menggunakan cara-cara ksatria,” ungkapnya.

Dari keterangannya, total keluarga inti yang dibuang ke Cianjur berjumlah 40 orang, ditambah warga Banjar lain sehingga totalnya 76 orang. Selama di Cianjur, Pangeran Hidayatullah tinggal di Kampung Banjar yang terletak di dalam tangsi, atau benteng Belanda. Kesempatan beribadah hanya hari Jumat bersama warga Cianjur. Keterbatasan itu tetap disiasatinya dengan menyebarkan pengetahuan agama ke warga setempat, terutama masa tua beliau.

“Beliau diasingkan berusia 40 tahun, lahir pada 1822 dibuang tahun 1862. Waktu itu, penjajah telah mencengkeram pengaruhnya di wilayah sini sejak 1600 an. Sehingga warga terbatas pengetahuan agamanya akibat kolonialisme. Jadi, beliau tetap berjuang dengan cara pendidikan sampai mendapat gelar Pangeran Ulama Berjubah Kuning dengan senjata ampuh di tangan,” ucapnya.

0 Komentar