Nalar kekerasan apa yang ada di kepala para “penjemput kematian” ini, untuk bersama-sama bunuh diri?
Apokaliptisisme (apocalypticism) adalah keyakinan, atau lebih tepatnya imajinasi eskatologis, yang melihat bahwa dunia sedang dalam kondisi rusak parah dan dikendalikan para musuh Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak mungkin lagi diperbaiki kecuali dengan cara yang luar biasa. Imajinasi ini sering berkait dengan keyakinan tentang hari akhir ketika perang antara kekuatan Tuhan dan kekuatan Setan mencapai puncaknya. Orang-orang yang mengadopsi nalar apokaliptik meyakini bahwa mereka adalah bagian dari pasukan Tuhan yang akan mengalahkan kekuatan Setan sebagai prakondisi datangnya hari akhir.
Imajinasi apokaliptik melahirkan nalar yang melihat kekerasan bukan sebagai tindakan agresi, melainkan sebagai aksi penyelamatan (salvation) dan penebusan dosa (redemption). Kematian dilihat sebagai pintu gerbang bagi kehidupan baru yang bebas dari dunia yang penuh dengan polusi kejahatan. Pemimpin apokaliptik biasanya menanamkan keyakinan bahwa mereka adalah kelompok terpilih, semacam pembela terakhir keyakinan yang benar di saat yang lain menyimpang dan larut dalam arus kerusakan. Di kalangan jaringan ekstremis Muslim, mereka pada umumnya mengklaim diri sebagai ghuraba, orang-orang yang dianggap aneh atau asing sebagaimana Nabi Muhammad dianggap aneh pada masa-masa awal mengajarkan Islam.
Baca Juga:Truk Tangki Bermuatan BBM Terguling di Jalur Cirebon-Kuningan, Bahan Bakar Minyak Tumpah ke JalananJika Ikan Ini Muncul di Permukaan, Awal Mula Pertanda Bencana
Kaum apokaliptik menciptakan kerusakan sebagai cara untuk menyelamatkan sebagaimana ditunjukkan Robert Jay Lifton dalam bukunya Destroying the World to Save It (2000). Merujuk pada kata-kata yang digunakan oleh tokoh apokaliptik Jepang, Asahara Shoko, pemimpin Aum Shinrikyo, kelompok yang sejumlah anggotanya terlibat dalam serangan gas beracun kereta bawah tanah Tokyo pada 1995, serangan teror itu bertujuan “untuk menyelamatkan lebih banyak orang dengan terlebih dulu menghancurkannya.”
Apa yang membawa orang pada nalar apokaliptik itu? Ada banyak faktor yang bisa berperan. Tetapi jika seseorang terus-menerus menerima narasi totalistik yang melihat berbagai masalah kehidupan sehari-hari sebagai hasil dari kejahatan kekuatan antiagama yang bersifat sistemik dan permanen, ia rentan terperosok ke dalam nalar apokaliptik.
Pakar terorisme Mark Jurgensmeyer dalam buku terkenalnya Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2000), menyebut peran penting imajinasi “perang kosmik” (cosmic war) dalam mengeskalasi konflik-konflik yang bersifat temporal-kekinian (“duniawi”) menjadi konflik yang bersifat eskatologis: perang pasukan Tuhan versus pasukan Setan. Berdasarkan wawancaranya dengan para ideolog terorisme dari berbagai agama, ia menyimpulkan bahwa salah satu aspek penting dari kemampuan mereka merekrut para “pejuang” yang siap mati adalah retorika yang menghubungkan antara isu-isu temporal seperti kemiskinan dan diskriminasi dengan imajinasi tentang perang-perang besar yang dinarasikan dalam teks-teks keagamaan. Imajinasi perang kosmik membuat para pemercayanya tidak lagi bisa diajak kompromi karena mereka telah menaikkan level krisis ke tingkat eksistensial, menyangkut makna hidup-mati dan keberlangsungan keyakinan/kelompok mereka.
