CARUBAN NAGARI-Berdiri persis di sayap kiri kompleks Keraton Kasepuhan, keberadaan Umah Kulon nyaris tidak terlihat jika dilihat dari gerbang utama keraton. Keberadaannya memang nyaris tersembunyi, sebab jalan masuk cukup sempit dari sayap kiri tersebut, ditambah banyak pepohonan yang rimbun, membuat Umah Kulon hampir tidak diketahui oleh warga.
Namun, Umah Kulon yang memang berarti rumah yang berada di barat ini nyaris berusia 100 tahun, atau tepatnya 3 tahun lagi rumah ini berusia satu abad sejak awal dibangun pada 1924 silam.
Di rumah ini, Sultan Sepuh Aloeda II yang sebelumnya dikenal sebagai Rahardjo Djali melaksanakan jumenengan. Bukan tanpa alasan Sultan Sepuh Aloeda II melaksanakan jumenengan di rumah ini, sebab rumah tersebut juga merupakan tempat bersejarah di mana Sultan Sepuh XI Tadjul Arifin Djamaluddin Aluda Mohammad Samsudin Radjanatadiningrat menghabiskan sisa hidupnya.
Baca Juga:Pihak Luar dan Pemerintah Tidak Bisa Ikut Campur, Begini Pandangan Praktisi Hukum Terkait Polemik Kraton KasepuhanPenggenangan Bendungan Sadawarna Tampung 44.61 Juta Meter Kubik, Suplai Irigasi Pertanian 4.500 Hektar di Subang dan Indramayu
“Rumah ini dibangun pada tahun 1924 silam, waktu kakek saya mau menikahi nenek saya pada 1925. Waktu itu, di sinilah kakek saya menghabiskan sisa hidupnya, dan meninggal pada 1942,” ujar Sultan Sepuh Aloeda II, Senin (5/12).
Sultan Sepuh XI saat itu menggunakan bangunan utama Keraton Kasepuhan sebagai tempat menerima tamu. Namun untuk tidur dan berkumpul dengan keluarga, ia lakukan di Umah Kulon.
Umah Kulon sendiri tidak terlalu luas, namun memiliki banyak ruangan. Terdapat empat kamar yang ruang tidur utamanya berada di belakang dan merupakan kamar Sultan Sepuh XI, kini kamar tersebut ditempati oleh Sultan Sepuh Aloeda II.
“Setelah kakek wafat pada 1942, Umah Kulon ini kemudian ditempati oleh kakak kandung almarhum ibu saya dan adiknya yang paling kecil,” ungkapnya.
Di Umah Kulon pula, menurut Sultan Sepuh Aloeda II, terjadi perbincangan antara neneknya yaitu Nyi Mas Rukiah dan anak ketiga Nyi Mas Rukiah yaitu Raden Soegiono. Perbincangan ini terjadi pada 1965.
“Perbincangan itu berisi tentang Raden Soegiono yang menolak untuk menjadi Sultan Sepuh XII. Ia memilih untuk berkarir di Bank Indonesia. Bahkan kursi di mana Raden Soegiono duduk saat ngobrol itu pun sekarang masih ada,” ujarnya sambil menunjukkan kursi yang dimaksud.
