RITUAL ruwatan bangsa di Candi Ngawen, berada di desa Ngawen kecamatan Muntilan sekitar 5 km ke arah tenggara dari candi Mendut sebelah kiri jalan ke rute Sendangsono.
Diketahui, candi ini dibangun pada abad ke 8 oleh dinasti Syailendra sapaerti tersebut dalam Prasasti Karang Tengah tahun 824 M. candi Ngawen memiliki 5 buah candi kecil yang setiap sudutnya dihiasi oleh patung singa penjaga candi dan wihara Pangeran Sidharta menunggu nirwana.
Relief candi Ngawen masih jelas terukir indah tentang Kinara-Kinari (sang penghibur Dewa di Kahyangan), Kalamakara (Dewa Waktu) dan D hyani Budha Ratnasambhawa dengan sikap tangan Wara Mudra (Budha memberi berkah).
Baca Juga:Berikut 4 Fakta Ungkap Siapa Tokoh SiliwangiWedana Bupati Mataram di Tatar Priangan Terbunuh, Makamnya di Kawasan Hutan Situs Karangkamulyan
“Ruwatan bangsa ini dilakukan sebagai bentuk bakti dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, juga untuk mendoakan keselamatan bangsa di tengah banyaknya bencana yang terjadi,” kata Keturunan keenam Pangeran Diponegoro, sekaligus pemilik Padepokan Dipanegaran, Gus Farid Diponegaran, Minggu (24/8).
Ruwatan bangsa ini, imbuhnya dilakukan bersama Gedhe Mahesa Anggoro Kasih Rama dari Pasuruan, Malang, Surabaya, Bali berikut ndalem Pujo Kusuman, Romo Klentheng dan Lembaga Adat Borobudur.
“Ritual ruwatan bangsa juga dilakukan di Sendang Sejodho Kamulyan dan terakhir Candi Borobudur. Hal dilakukan sebagai bakti leluhur, bangsa, dan batiniah munajad dalam doa samadi. Semoga wujud Indonesia sejahtera lahir batin rakyat adem ayem negara damai nuswantoro bangkit peradabannya,” tandasnya.
Menurut Gus Farid, upacara ruwatan kebangsaan juga sebagai bentuk bakti dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta leluhur bumi nusantara atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dianggap sebagai kelanjutan dari wilayah yang disebut sebagai nusantara.
“Ritual ruwatan ini juga dimaksudkan sebagai upaya menetralisir kutukan leluhur atas perilaku manusia di bumi nusantara yang dinilai telah menyimpang dari tatanan nilai luhur yang telah disematkan ribuan tahun lalu yang dinilai mampu mendatangkan mara bahaya melalui bencana,” pungkasnya.
