Membaca "Wangsit Siliwangi": Dialektika Sejarah dan Cakrawala Masa Depan

Naskah Cariosan Prabu Siliwangi
"Naskah Asli Cariosan Prabu Siliwangi" digitalisasi EFEO pada flip book maker.
0 Komentar

Budak Angon adalah personifikasi dari para pemikir, sejarawan, dan rakyat jelata yang berani menelusuri kebenaran di tengah larangan “Pemimpin Pengganti.” Mereka adalah kelompok yang “mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa.”

Sikap ini menunjukkan bahwa kebenaran sering kali tidak ditemukan di istana atau ruang sidang formal, melainkan dalam upaya tak kenal lelah mengumpulkan kembali kepingan sejarah yang sengaja dikubur oleh narasi penguasa.

Refleksi untuk Indonesia Kini

Dalam konteks kekinian, di mana skandal korupsi sistemik mengguncang legitimasi negara, transkrip ini terasa sangat relevan. Pesan tentang harum sejati yang “takkan terlihat dan takkan terdengar” menyiratkan bahwa nilai-nilai kebaikan dan jati diri bangsa yang sesungguhnya tidak terletak pada kemegahan simbol-simbol kekuasaan. Ia adalah esensi budi pekerti yang lurus.

Baca Juga:Dari UFO hingga Alien, Festival Paling Unik Tahun 2026 Hadir di IndonesiaAset Berharga Cirebon, Wakil Ketua DPRD Kawal Tamara Menuju Timnas Olimpiade Matematika Internasional

Teks ini mengingatkan kita bahwa sejarah adalah siklus yang berulang—”setiap jaman membuat sejarah, setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.” Jika kita saat ini sedang terjebak dalam krisis moralitas, mungkin karena kita terlalu sibuk memperebutkan tahta (timur) dan melupakan akar budaya yang agung.

Pada akhirnya, Wangsit Siliwangi bukanlah ajakan untuk bernostalgia pada kejayaan masa lalu. Ia adalah sebuah cermin. Ia menantang kita: apakah kita akan menjadi penguasa yang semena-mena, menjadi tamu yang menyusahkan, atau menjadi Budak Angon yang dengan tenang mengumpulkan kearifan untuk membangun kembali peradaban yang baru?

Pajajaran mungkin telah hilang dari peta, namun “harum sejati” dari moralitas seorang pemimpin dan keteguhan hati rakyatnya adalah warisan yang tak akan pernah bisa dimusnahkan oleh jaman, sejauh kita masih memiliki keberanian untuk menelusuri, meski harus melawan arus kekuasaan yang sedang angkuh.

Penulis: BONDHAN W, pengamat sosiologi budaya dan peminat studi sejarah Nusantara.

0 Komentar