Runtuhnya Kerajaan Sunda, Dari Raja-Raja Bermasalah hingga Tekanan Pesisir Utara Jawa

Situs Batu Tulis Huludayeuh di Cirebon, Jawa Barat. (Pemkab Cirebon)
Situs Batu Tulis Huludayeuh di Cirebon, Jawa Barat. (Pemkab Cirebon)
0 Komentar

KERAJAAN Sunda dan Galuh merupakan dua dari beberapa negeri yang paling panjang umur di Nusantara. Masa hidup mereka membentang paling tidak dari periode akhir Sriwijaya hingga awal kedatangan Portugis ke Asia Tenggara.

Sebagai negeri kembar yang relatif tenang dari segi dinamika politik, Sunda-Galuh berhasil mencapai masa keemasannya pada sekitar abad ke-14 sampai abad ke-16 M, yakni pada masa pemerintahan Niskala Wastu Kancana dan periode cucunya Sri Baduga Maharaja yang masyhur.

Seperti disebut oleh Budimansyah dalam tesisnya Rekonstruksi Kota Galuh Pakwan (1371-1475 M) dan Kota Pakwan Pajajaran (1482-1521 M) (2019), Niskala Wastu Kancana yang berkuasa tidak lama pasca terjadinya Peristiwa Bubat(1357 M), berhasil menstabilkan kondisi politik kerajaannya setelah terjadi interregnum (peralihan kekuasaan) yang aksidental.

Baca Juga:Bagaimana Sunda-Galuh Mengambil Alih Jawa Barat dari Pengaruh Sriwijaya?Mas Bei Kertowidjojo, Perajin Solo yang Gemparkan Pasar Seni Belanda

Berdasarkan temuan-temuan di Situs Astana Gede Kawali di Ciamis—termasuk prasasti yang menyebut nama Raja Niskala Wastu—sang Natha berhasil membangun keraton Surawisesa di Kota Kawali (Galuh Pakwan), demi memperlihatkan kewibawaannya.

Tidak mengherankan jika masa kekuasaan Niskala Wastu Kancana diceritakan memerintah hingga 104 tahun dalam Carita Parahyangan. Hal yang disebut terakhir itu agaknya merupakan bentuk hiperbola dari bagaimana dia berhasil membawa Kerajaan Galuh ke masa jayanya.

Sementara pada masa kekuasaan Sri Baduga Maharaja, Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaan. Setelah hampir seribu tahun tidak bersatu lagi dengan Kerajaan Galuh—sejak pemerintahan Raja Sanjaya di abad ke-8, akhirnya Kerajaan Sunda mampu bersatu lagi di tangan Sri Baduga Maharaja yang berasal dari Galuh.

Sesuai dengan keterangan naskah Carita Ratu Pakuan dalam edisi Atja (1970), Sri Baduga Maharaja dikisahkan telah menikahi putri Kerajaan Sunda dan kemudian memusatkan pemerintahan Kerajaan Sunda-Galuh ke ibu kota Kerajaan Sunda di Pakwan Pajajaran–Bogor sekarang.

Setidaknya masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja meninggalkan atau berasosiasi dengan tiga prasasti, yakni Prasasti Batu Tulis di Bogor, Huludayeuh di Cirebon, dan Kebantenan di Bekasi. Kemasyhuran dari pemerintahan Sri Baduga Maharaja nantinya diwariskan kepapada anaknya: Surawisesa.

Ketika anaknya berkuasa, datang bangsa Portugis yang mencatat betapa megahnya kehidupan raja-raja Sunda beserta kemajuan pelabuhan perdagangannya. Tome Pires dalam Suma Oriental yang dipublikasikan oleh Armando Cortesao (2018) menyebut bahwa Kerajaan Sunda memiliki enam pelabuhan, meliputi bantam (Banten), pomdan (Pontang), cheguide (Cigede), tamgaram (Tangerang), calapa (Sunda Kelapa), dan chemano (Cimanuk).

0 Komentar