Teka-teki Langkanya Candi Kerajaan Sunda Kuno

480px COLLECTIE TROPENMUSEUM Offerplaats bij Kawali TMnr 60014011
Sasajén di Kawali,1863 - 1864
0 Komentar

Kemudian ada pula berupa punden berundak. Bentuknya berteras dua, tiga, atau lebih. Terasnya tersusun dari batu polos atau blok batu. Di bagian tengah teras, terdapat tangga menuju teras teratas. Pada kasus situs di puncak Gunung Tampomas, Sumedang, teras teratas dari pundennya dibatasi pagar batu polos.

Ada juga bangunan pertapaan yang belum diketahui secara pasti. Itu bisa berupa gua-gua yang mirip dengan yang ada di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, atau bangunan pertapaan yang terbuat dari bahan mudah lapuk.

“Apa yang disebut kabuyutan dalam naskah Sunda Kuno sebenarnya adalah bangunan yang mempunyai bentuk dasar demikian, tapi sangat mungkin dilengkapi dengan arca dari pantheon Hindu atau arca bercorak megalitik yang menggambarkan perwujudan leluhur,” tulis Agus.

Baca Juga:Jejak Bangsawan Rusia di Hindia BelandaMencari Benteng Cirebon ‘De Beschermingh’

Kalau dibandingkan, bentuk bangunan era Sunda Kuno justru mirip bangunan era akhir Majapahit. Khususnya jika membandingkan beberapa bangunan suci dari masa yang relatif sama.

“Terutama ketika Majapahit sedang berjaya, sebagai negara adikuasa di Nusantara saat itu, tak heran kalau Majapahit menjadi acuan bagi wilayah lain di Nusantara, termasuk bagi Kerajaan Sunda,” jelas Agus.

Pada masa akhir Hindu-Buddha berkembang bentuk punden berundak yang banyak dipakai sebagai tempat pemujaan. Bangunan-bangunan di Gunung Penanggungan, misalnya, bentuknya punden berundak atau gua pertapaan.

Umumnya, mereka terbuat dari balok batu yang terdiri atas empat teras yang dibangun bersandar pada kemiringan lereng. Gunanya sebagai karsyan, di mana para agamawan atau rsi bermukim dan mengasingkan diri dari keramaian dunia.

Mirip dengan itu, Situs Astana Gede, Kawali, Ciamis (abad ke-14 M) juga memiliki halaman yang berundak-undak. Di sana ditemukan batu-batu bagian dari suatu bangunan yang tahan lama.

Sangat mungkin di kompleks itu terdapat bangunan-bangunan yang terbuat dari bahan yang tak tahan lama. Sebab Prasasti Kawali I menyebut Raja Wastu Kancana pernah bertapa di sana. Padahal, di Kawali tidak ditemukan gua untuk bertapa seperti di Gunung Penanggungan. Jadi, tempat bertapanya kemungkinan bangunan sederhana.

0 Komentar