MASA Mataram Kuno meninggalkan monumen-monumen yang spektakuler. Beberapa di antaranya Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Sambisari. Begitu pula di Jawa Timur, candi-candi peninggalan Kerajaan Singhasari dan Majapahit, masih relatif utuh dan bisa dikagumi keindahannya.
Di Jawa Barat tak begitu. Beberapa sisa bangunan masa Hindu Buddha memang berhasil ditemukan. Namun letaknya tersebar dan kondisinya tinggal serakan batuan andesit atau bata. Misalnya Kerajaan Sunda Kuno yang berkembang setelah Kerajaan Tarumanegara runtuh pada abad ke-7 M hingga abad ke-16. Tak mudah menyebutkan di mana saja mereka membangun monumennya.
Padahal, menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Tatar Sunda Masa Silam Kerajaan Sunda, Kerajaan Sunda Kuno mendirikan banyak bangunan terutama untuk keagamaan. Tempat-tempat suci itu beberapa kali disebut dalam naskah-naskah keagamaan yang hingga kini masih bertahan. Sayangnya, lokasinya belum diketahui secara pasti.
Baca Juga:Jejak Bangsawan Rusia di Hindia BelandaMencari Benteng Cirebon ‘De Beschermingh’
Bangunan yang didirikan kerajaan-kerajaan di Jawa Barat tak sama dengan bangunan yang dibangun oleh Mataram Kuno, Singhasari, dan Majapahit. Kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu membangun monumen biasanya berupa candi dan petirtaan. Arsitektur candinya mempunyai bentuk baku, seperti kaki, tubuh, dan atap.
Berbeda dengan bangunan di Tatar Sunda. Kebanyakan bangunan yang ditemukan tak menunjukkan bentuk lengkap: kaki, tubuh, atap, dan bilik serta relung untuk menempatkan arca dewa.
Candi Cangkuang di Garut memang menunjukkan bentuk kaki, tubuh, dan atap. Namun, menurut Agus, candi itu tak bisa dirujuk karena hasil rekonstruksi yang belum pasti kebenarannya. Karenanya candi itu bukan bukti kalau dulu pernah didirikan bangunan candi baku di wilayah Jawa Barat.
Dalam makalah “Bangunan Suci pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi dan Sumber Tertulis”, yang terbit dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Agus Aris Munandar menyebutkan kalau batur tunggal merupakan bentuk dasar bangunan suci pada masa Kerajaan Sunda Kuno. Ciri arsitekturnya hanya satu teras, terbuat dari batu polos, balok batu atau bata. Biasanya mempunyai tangga atau tak mempunyai tangga.
