“Jelas di Situs Kawali ada bangunan pertapaan. Bangunan itu tidak permanen, mungkin hanya berbentuk rumah panggung yang ditutup dinding kayu atau terbuka,” jelas Agus.
Banyaknya bangunan yang dibuat dengan bahan mudah lapuk itu juga yang menjadikannya tak lagi tersisa. Misalnya Situs Batu Kalde, menurut BPCB Serang, diperkirakan memiliki arsitektur yang dikelilingi pagar berdenah persegi panjang. Struktur pecahan batu kapur dipakai sebagai pondasi dan balok-balok batu di bagian atasnya.
Di sana, tak dijumpai batu-batu yang menunjukkan bekas bagian tubuh atau atap candi. Menurut Agus, candi di daerah Pananjung, Pangandaran itu mungkin dulunya batur terbuka. Lalu di atasnya diletakkan objek pemujaan. Struktur atapnya menggunakan bahan yang cepat rusak. Misalnya tiang dari bambu atau kayu, dan penutup atap dari ijuk. Tentu saja yang bertahan hingga sekarang hanya bagian baturnya.
Baca Juga:Jejak Bangsawan Rusia di Hindia BelandaMencari Benteng Cirebon ‘De Beschermingh’
Meski begitu, menurut Agus, bukan berarti tak ada bangunan candi yang bertubuh lengkap di Jawa Barat. Namun, jika melihat hanya dari penyebutannya di karya sastra keagamaan dan sumber tertulis lainnya dari masa Sunda Kuno, agaknya pencarian terhadap bangunan candi utuh seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan menjadi sia-sia. (*)
