Sejak kompeni menempati wakil-wakilnya di Cirebon, keberadaan orang asing bertambah dengan kehadiran wakil Kompeni Belanda, mungkin dengan keluarganya. Sekitar tahun 1700an, rumah-rumah rakyat dibuat dari bambu. Bangunan keraton dan rumah orang-orang Belanda dibuat dari batu (tembok) dan kayu.Tahun 1793 di Kota Cirebon terdapat tujuh buah rumah orang Eropa.
Setelah kompeni menanamkan kekuasaaanya di Cirebon, terjadi perubahan dalam kehidupan ekonomi perdagangan, menjadi terpuruk akibat tindakan kompeni berupa monopoli perdagangan berbagai jenis komoditas. Melalui perjanjian dengan para sultan, kompeni memeroleh hak monopoli ekspor beras, lada, kayu, gula dan produk-produk lain yang dikehendaki oleh VOC, dan bebas dari pajak impor-ekspor. Dengan demikian potensi perdagangan intrnasional melalui Pelabuhan Cirebon yang menjadi penunjang Kerajaan Islam Cirebon mencapai puncak kejayaan, sejak paruh kedua abad ke-17 dikuasai VOC.
Kompeni kemudian membangun puluhan benteng dekat Pelabuhan Cirebon. Saat itu orang-orang kompeni di Cirebon giat mengumpulkan lada, kapas, tarum dan kopi. Kopi saat itu termasuk komoditas yang dimonopoli kompeni. Oleh karena itu, ketika Pangeran Aria Cirebon menjadi pengawas para bupati di Priangan, biji kopi dari daerah itu diangkut ke Cirebon. Masih dalam catatan Cirebon dalam Lima Zaman, di bawah kekuasaan kompeni, terutama pada abad ke-18, di Cirebon terjadi kelaparan, wabah penyakit dan emigrasi penduduk. Kelaparan terjadi, karena padi atau beras dimonopoli kompeni dan faktor lainnya, lahan untuk menanam padi berkurang, lantaran sebagian lahan itu digunakan untuk menanam tarum (nila) dan kopi untuk kepentingan Belanda.
Baca Juga:Teka-teki Langkanya Candi Kerajaan Sunda KunoJejak Bangsawan Rusia di Hindia Belanda
Faktor lainnya, rakyat yang notabene petani kekurangan waktu untuk bercocok tanam padi dan palawija, karena mereka seringkali dipaksa kerja rodi dan kerja wajib untuk penguasa. Sementara itu, tanah-tanah desa disewakan kepada orang-orang Cina, antara lain di daerah Palimanan dan sekitarnya. Masalah itulah yang menyebabkan rakyat pada umumnya menderita, apalagi kehidupan ekonomi rakyat pun terpuruk. (*)
