Masa Sulit Orang-Orang Cirebon Jadi Kuli Belanda

images 47
KITLV
0 Komentar

KETIKA tanam paksa usai dan modal swasta masuk, giliran para juragan perkebunan asal Eropa yang mempengaruhi pola pertanian. Ekspansi lahan perkebunan selain menyedot tenaga kerja yang menjadi kuli-kuli kontrak, juga kerap menimbulkan konflik dengan para petani karena berebut lahan.

Manabu Tanaka dan Hiroyoshi Kano dalam Di Bawah Asap Pabrik Gula: Masyarakat Desa di Pesisir Jawa Sepanjang Abad ke-20 (1996) memberikan contoh konflik ini di daerah Comal, Jawa Tengah. Menurut mereka, perkembangan industri gula sangat berpengaruh terhadap produksi tanaman pangan dan kehidupan petani di daerah tersebut.

“Perluasan tanaman tebu menyebabkan terjadinya persaingan penggunaan lahan untuk produksi padi yang menimbulkan pelbagai konflik sosial antara pabrik gula dan petani setempat,” tulisnya.

Baca Juga:Teka-teki Langkanya Candi Kerajaan Sunda KunoJejak Bangsawan Rusia di Hindia Belanda

Tekanan-tekanan orang Eropa, baik lewat tanam paksa maupun liberalisasi penggarapan lahan, membuat petani di Jawa, seperti ditulis Clifford Geertz dalam Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi di Indonesia (1983), semakin terjepit. Mereka mencoba bertahan dengan apa yang ia sebut sebagai “membagi kemiskinan”.

Dalam sejarah Indonesia, nama Ernest François Eugène Douwes Dekker—belakangan dikenal sebagai Danudirdja Setiabudi—tentu tak asing. Ia adalah cucu-keponakan Eduard Douwes Dekker alias Multatuli yang menulis novel penggugat tanam paksa, Max Havelaar (1860).

Masa Tanam Paksa bagi masyarakat Jawa, terutama Cirebon merupakan masa yang paling pahit sepanjang sejarah. Penderitaan rakyat yang tak terperikan itu akibat diberlakukannya tanam paksa (culturestelsel). Rakyat dipaksa menanam kopi, teh, tebu untuk komoditas ekspor ke Eropa.

Ketika Cirebon berada di bawah pengaruh kekuasaan kompeni mulai tahun 1681,stratifikasi social penduduk pribumi di daerah itu tidak mengalami perubahan. Dari segi strata (tingkatan) status sosialnya, penduduk pribumi Cirebon waktu itu secara garis besar tetap terbagi atas golongan bangsawan tinggi (sultan beserta keluarganya), golongan bangsawan menengah (para pejabat bawahan sultan,ulama dan saudagar),dan rakyat. Di antara mereka, seperti dicatat dalam Cirebon dalam Lima Zaman (2011), terdapat sejumlah orang asing, khususnya Arab dan Cina yang telah menjadi penduduk Cirebon.

0 Komentar